Mandul! Persis Solo Butuh 225 Menit Bikin 1 Gol

Pemain Persis Solo Dedi Cahyono (kedua dari kiri) berusaha melewati hadangan pemain Persijap Jepara pada pertandingan uji coba di Stadion Manahan, Solo, Minggu (8/4 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
09 April 2018 20:25 WIB Chrisna Chaniscara Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO — Desakan agar Persis Solo mendatangkan striker anyar kian menguat setelah mereka hanya mampu bermain imbang tanpa gol melawan klub Liga 3, Persijap Jepara, akhir pekan lalu. Dari lima laga uji coba resmi jelang Liga 2, produktivitas gol Laskar Sambernyawa memang memprihatinkan karena hanya mampu mencetak dua gol.

Itu artinya tim hanya mengemas rata-rata 0,4 gol per pertandingan. Jika hitungannya menit bermain, Persis butuh 225 menit untuk mengemas sebiji gol! Kehadiran striker anyar seperti Sunarto, Johan Yoga hingga “si anak hilang” Chandra Waskito terbukti belum mampu meningkatkan ketajaman Laskar Sambernyawa. Mereka sama sekali belum pernah menjebol gawang lawan di uji coba resmi.

Striker lama seperti Tri Handoko juga baru menceploskan satu gol yakni saat Persis menumbangkan juara Liga 1 2017, Bhayangkara FC, dengan skor 1-0. “Tim sering gagal mencetak gol. Ini harus menjadi catatan serius,” ujar Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, saat dihubungi Solopos.com, Senin (9/4/2018).

Rio, sapaan akrab Aulia, menilai Jafri Sastra perlu mempertimbangkan untuk memboyong striker baru yang berkualitas. Menurut Rio, tim butuh striker dengan tipe goal getter dan memiliki daya juang untuk mencari bola.

Pihaknya menganggap salah satu problem mandulnya Persis saat ini karena striker kurang mobile dalam menjemput bola dan menciptakan peluang. Penyelesaian akhir para juru gedor juga masih sangat kurang hingga dengan mudah dimentahkan lawan.

“Kalau dilihat di laga melawan Persijap kemarin, para penyerang selalu gagal saat memasuki kotak penalti lawan. Mereka sulit melepaskan diri dari para bek untuk mencari celah mencetak gol,” tutur Rio.

Salah satu pendiri Pasoepati ini juga menyoroti ketiadaan pemain yang mampu menjadi jembatan antara lini tengah ke depan. Akibatnya, suplai bola ke para penyerang agak tersendat. “Seperti ada yang hilang di lini tengah. M. Wahyu seperti bekerja sendiri untuk bertahan dan membangun serangan. Tim butuh sosok playmaker.”

Pelatih Persis, Jafri Sastra, mengaku sudah berupaya memboyong pemain baru untuk melengkapi skuat Persis. Namun dirinya terbentur mepetnya waktu persiapan sehingga banyak pemain berkualitas yang sudah dikontrak klub lawan.

Jafri sempat mencoba beberapa pemain bertipe menyerang seperti Ikris Yamhin hingga Naftali Heluka. Sayang keduanya dianggap tak mampu mengangkat performa Persis. “Saya tidak mau mendatangkan pemain kalau kualitasnya sama saja dengan yang ada.”