Rahasia Cristiano Ronaldo Masih Hebat di Usia Tua

Cristiano Ronaldo (Reuters/Masimmo Pinca)
15 April 2018 09:10 WIB Budi Cahyana Dunia Share :

Solopos.com, Jogja— Karier Cristiano Ronaldo masih moncer. Ronaldo alias CR7 tak menunjukkan tanda-tanda bakal meredup. Berselang 68 hari setelah ulang tahun ke-33, Ronaldo membuat gol salto ke gawang Juventus dan memecahkan banyak rekor di Liga Champions.

Ketika banyak pemain seumuran mulai menyingkir dari panggung sepak bola dunia, Ronaldo masih tetap ampuh, konsisten, keren, nyaris tanpa cacat, menyita banyak atensi, dan tentu saja galib. Jadi apa sebenarnya rahasia pria ini, atlet yang dinilai tak diberkati talenta alami, tetapi dengan gampang memecahkan rekor demi rekor? Harianjogja.com mencoba mengulas, berdasarkan omongan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, juga pengakuan si pemain terbaik dunia.


Dibentuk United
Syahdan, Carlos Queiroz masih membereskan tetek bengek pekerjaan sebagai asisten Alex Ferguson di kantornya, Carrington, Inggris. Latihan rutin telah kelar. Lapangan sepi. Dari kejauhan, dia melihat kelebatan di pohon. Queiroz menaruh syak wasangka. Jangan-jangan telik sandi sedang memata-matai denyut kehidupan kehidupan di kompleks latihan Manchester United. Dia memanggil sekuriti. Si petugas keamanan menghampirinya dan berkata, “Cristiano Ronaldo. Dia sedang berlatih sendirian."

Itu adalah musim 2003-2004. Ronaldo belum lama tiba sebagai remaja ingusan dari Lisbon. Di usia 18 tahun, keinginannya untuk menjadi yang terbaik sudah kentara. “Sangat jarang saya melihat pemain muda dengan bakat, tujuan yang jelas, serta dan kepribadian dan komitmen yang kuat. Saya pernah membaca cerita Arnold Schwarzenegger belajar menari tango. Dia terobsesi menjadi perfeksionis. Cristiano punya karakter sama,” kata Queiroz yang sekarang melatih Timnas Iran.

Ferguson, pelatih yang banyak melahirkan pemain top dan memberi United gelimang kejayaan menganggap Ronaldo punya kualitas mental yang tak dimiliki pemain lain. “Gary Neville yang awalnya pemain tak dikenal berubah menjadi bek kanan yang mengagumkan karena etos kerjanya, begitu pula David Beckham. Tetapi Ronaldo lebih sempurna dalam memacu diri,” ucap Ferguson.

Tak cuma jajaran pelatih yang punya pendapat demikian. Di mata rekan setimnya, Ronaldo adalah sosok langka, juga mengagumkan. “Ronaldo seperti dirasuki gairah untuk menjadi yang paling unggul di segala hal,” ujar Quinton Fortune, gelandang Afrika Selatan yang membela Manchester United selama tujuh musim sejak 1999.

“Ada banyak pemain berbakat yang cukup puas dengan kemampuan mereka, tak punya vitalitas untuk mendorong diri mereka menjadi lebih baik. Ronaldo punya keduanya, talenta dan antusiame. Setiap hari, dia datang ke tempat latihan dan mengerahkan tenaga ekstra. Menendang, menggiring, bermanuver, pergi ke gim, ingin menjadi lebih kuat, lebih cepat. Dia hanya berlatih untuk menjadi lebih lihai dari hari ke hari.”

Determinasi yang kuat tak cukup tanpa ketekunan dan kesabaran. Ronaldo memilikinya. “Cristiano datang ke gim untuk menguatkan otot-otot kakinya. Kemudian dia pulang, menyantap makanan sehat, berenang, tidur, saya yakin dia bahkan memimpikan sepak bola, dan datang kembali keesokan harinya. Dia ajek melakukannya selama enam tahun di sini,” ucap Mike Clegg, pelatih fisik United di dekade 2000-an.

“Orang-orang bilang Anda butuh 10.000 jam untuk menjadi sangat mahir, entah itu melukis atau bermain gitar. Ronaldo melakukannya dan menyediakan waktu yang lebih banyak.”

Tak cuma itu, Ronaldo disiplin, malah bisa dibilang kelewat disiplin.  Pada awal musim 2011, Jese Rodriguez baru saja dipromosikan ke tim utama Madrid dan punya nafsu besar untuk memikat hati Jose Mourinho.

“Saya masih ingat hari pertama pergi ke tempat latihan sebagai anggota tim utama. Saya datang dua jam lebih awal untuk mengesankan pelatih. Tetapi ketika saya sampai sana, Cristiano sudah berkeringat, sudah latihan,” ucap Jese yang kini sedang menghabiskan masa pinjaman di Stoke City setelah periode yang tak sukses di Paris Saint-Germain.

Mitos
Cara Ronaldo mendorong batas-batas kemampuan tubuhnya nyaris menjadi mitos. Daily Star pernah membuat berita bombastis, mengutip sumber di internal Real Madrid, tentang Ronaldo yang mampu sit up sampai 3.000 kali dalam sehari. Belakangan, Ronaldo menampik rumor tersebut.

“Tidak benar jika saya sit up 3.000 kali dalam sehari. Saya biasanya latihan di gim tiga sampai empat kali sepekan. Saya sit up 200 atau 300 kali tiap kesempatan, mungkin kalau sepekan sampai 1.000 kali,” kata Cristiano.

Kekuatan fisik adalah modal utama Ronaldo. Dia tak selincah Lionel Messi saat menggiring bola, tak punya kontrol sesempurna Zinedine Zidane, tak sekreatif Ronaldinho atau Ronaldo de Lima dalam mempermainkan bola, dan tak senakal Maradona dalam mengecoh lawan. Namun, tubuhnya yang kokoh dan atletis mampu mengatasi kekurangan itu.

Mulai Melesat
Musim 2006-2007 adalah pelontar karier Ronaldo. Piala Dunia 2006 menjadi fase yang buruk bagi Ronaldo muda. Dia tak masuk hitungan penghargaan pemain muda terbaik. Grup Studi FIFA menganggap Ronaldo punya tabiat buruk yang tak patut dijadikan teladan anak-anak muda lain.

Di perempat final, ketika akhirnya Portugal menang adu penalti atas Inggris, dia bersitegang dengan Wayne Rooney. Media-media Inggris menuduhnya memprovokasi wasit sehingga Rooney, anak emas Manchester United, diusir dari lapangan. Spekulasi berembus, Ronaldo bakal ditendang dari Old Trafford.

Selanjutnya kita tahu, Rooney tak pernah menyamai level Ronaldo. Pada musim sebelum Piala Dunia Jerman, Ronaldo tampil 33 kali di Liga Premier dan cuma mencetak sembilan gol. Setelah Piala Dunia, catatan golnya melonjak menjadi 17. Sejak saat itu, Cristiano selalu mencetak dua digit gol saban musim. Lesatan Ronaldo sangat kencang di 2007-2008. Dia bikin 42 gol dari 49 penampilan di semua kompetisi dan membawa United meraih trofi Liga Champions.

Musim itu, Ronaldo sebenarnya mengawali dengan buruk. Dia melewatkan tiga pertandingan gara-gara kartu merah saat melawan Portsmouth. Sikapnya arogan dan egois. Untungnya, ada orang Belanda yang membentuknya sebagai pemain tim dan mengendalikan Ronaldo agar tetap jaim di panggung publik.

“Saya membuat diagram untuknya, memberinya banyak detail yang diperlukan oleh pemain bola,” ujar Rene Meluensteen, staf pelatih tim utama United dari 2007 hingga 2013. “Ada elemen taktik: kewastikaan, pemahaman dengan rekan setim, dan pengambilan keputusan. Ada elemen fisik: kekuatan, daya tahan, stamina. Ada elemen kepribadian: tindak tanduk dan keinginan untuk menang. Dan terakhir adalah elemen teknis: operan, tembakan, pergerakan, manuver, cara memenangi duel.”

Arogan
Dalam sebuah sesi latihan, Meulensteen bertanyakepada Ronaldo, “Menurutmu kamu bagus dalam aspek apa?” “Teknis,” timpal Ronaldo

“Oke, saya sepakat. Pergerakanmu tak bisa diterka lawan dan kamu sangat mahir dalam sentuhan satu-dua sehingga mereka bakal kesulitan bertahan saat menghadapimu,” ujar Meulensteen.
“Masalahnya, perangaimu dan pengambilan keputusanmu di lapangan masih buruk.”

Ronaldo kerap pamer kemampuan, enggan mengoper ketika rekannya punya ruang lebih leluasa, dan akhirnya kehilangan bola. “Musim lalu kamu cuma bikin 23 gol di semua kompetisi karena nafsumu untuk mencetak gol indah terlalu gede. Kamu selalu ingin jadi sorotan. Tahu enggak? Pemain terbaik adalah dia yang bermain demi tim. Kamu malah berpikir sebaliknya. Ingat, angkatlah tim, maka tim akan mengangkat kamu.”

Ronaldo, biar pun terkesan congkak, adalah pribadi yang mau mendengarkan orang lain yang bisa meningkatkan kualitas. Setelah urusan egoisme rampung. Meulensteen dan Ronaldo membuat beberapa simulasi latihan untuk mencetak gol. Ronaldo diberi wawasan baru ke mana dia harus bergerak dan di mana dia harus menempatkan diri dalam sebuah skema serangan.

Di akhir Januari saat paruh musim, Ronaldo sudah membuat 27 gol untuk United. Meulensteen memacunya lebih jauh dan mengarahkannya di jalur yang pas. “Saya memberinya video tentang Pele dan Muhammad Ali. Ronaldo punya tivi besar di rumah dan seharusnya tak kesulitan memahami pesan dalam video itu, tentang kerja keras dan fokus. Fokus pada penampilan alih-alih hasil, fokus menyerahkan kemampuan untuk tim dan yang tak kalah penting, bahasa tubuh yang tidak lebay.”

Bahasa tubuh menjadi perhatian tim pelatih United karena Ronaldo kelihatan sangat sombong di televisi. Setelah mencetak gol di Liga Champions lewat tendangan bebas ke gawang bekas klubnya, Sporting, dia memandang kamera dan merentangkan tangan.

Meulensteen menganggap mimik Ronaldo sangat angkuh. Seolah-olah anak muda itu sedang berkata, “Lihatlah saya, tak ada yang bisa seperti saya.”

Bagi Meulensteen, tak masalah Ronaldo arogan asal jangan diperlihatkan ke khalayak. Kesombongan bisa sangat merugikan karena lawan akan semakin bernafsu untuk menghancurkan.
Ronaldo, menurut Meulensteen, semestinya mencontoh petenis yang sangat kalem, tak pernah memperlihatkan kegusaran berlebihan dalam situasi tertekan atau kegembiraan meluap-luap kala menang. Seperti Bjorn Borg dan Roger Federer.

Terus Berkilau
Omongan Meulensteen masih membekas sampai sekarang. Ketika mendapat aplaus dari suporter Juventus setelah gol salto di Turin tengah pekan ini, Ronaldo menunduk, memberi hormat dengan menangkupkan telapak tangan ke dada.

Kombinasi ambisi yang tak berkesudahan untuk menjadi yang terbaik, polesan pelatih ulung, dan ketekunan yang nyaris tiada tara tetap dipelihara Ronaldo di umurnya yang sudah 33 tahun. "Saya sudah bekerja sangat keras, tetapi tak akan mampu mencapai level ini tanpa bantuan orang-orang profesional yang pernah bekerja dengan saya."

Ketika Rooney perlahan-lahan berkarat di Everton, Ronaldo tetap berkilau. Grup Studi FIFA boleh saja mengabaikan namanya pada Piala Dunia Jerman 2006 dan memilih memberikan penghargaan pemain muda terbaik turnamen kepada Lukas Podolski.

Namun, waktu bisa membuktikan mana emas betulan dan mana emas sepuhan.Ketika Ronaldo terus membuat rekor di Madrid dan Timnas Portugal, Podolski yang punya umur sama dengan Ronaldo menghabiskan pengujung kariernya di Vissel Kobe, bermain dalam satu unit yang sama dengan bek kiri Thailand Theerathon Bunmathan, yang kelasnya cuma Piala AFF dan paling banter kualifikasi Piala Dunia.

Meski sudah bisa mengendalikan gestur di depan kamera, benak Ronaldo tak pernah berubah. Saat menghadiri penyerahan penghargaan di Lisbon akhir Maret lalu, Ronaldo berkoar tentang kepercayaan diri yang tak pernah luntur.

“Kita semestinya harus selalu yakin bahwa kita adalah yang terbaik. Saya selalu percaya tak ada orang yang lebih baik ketimbang saya. Di level personal dan kolektif, saya sudah meraih banyak hal tahun lalu. Saya punya lima trofi [Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, Liga Primera Spanyol, dan Piala Super Spanyol], Ballon D’Or dan Pemain Terbaik FIFA.”













Tokopedia