Kisah Arsene Wenger Diremehkan Saat Tiba di Arsenal

Arsene Wenger (Reuters/Scott Heppell)
20 April 2018 22:25 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, LONDON — 1 Oktober 1996 merupakan hari perdana Arsene Wenger bekerja sebagai pelatih Arsenal. Kedatangannya kala itu seperti tidak diharapkan pendukung Arsenal. Maklum, reputasi Wenger di dunia kepelatihan Eropa tidak menonjol.

Pelatih asal Prancis itu tiba di London Utara setelah membesut tim Jepang, Nagoya Grampus Eight. Fans Arsenal sendiri sudah mendabakan pelatih sekaliber Johan Cruyff untuk menakhodai The Gunners. Padangan skeptis sontak bermunculan dengan kedatangan Arsene Wenger. Secara penampilan, Wenger yang berperawakan kurus dan berkacamata membuatnya terlihat seperti “guru sekolah” ketimbang pelatih.

Tokopedia

"Pada awalnya, saya berpikir: Apakah pria Prancis ini paham sepak bola? Dia mengenakan kacamata dan lebih seperti guru sekolah. Dia tidak akan sebagus George Graham. Apakah dia bisa berbahasa Inggris dengan baik," jelas kapten Arsenal saat itu, Tony Adams, seperti dilansir Espn.co.uk.

Bukan hanya pemain-pemain Arsenal yang memandang sebelah mata Wenger. Media-media Inggris meremehkan tangan dingin sarjana teknik Universitas Strasbourg dan pemilik gelar master ekonomi tersebut dalam sepak bola. “Arsene Who?” tulis koran terkemuka di London, The Evening Standard, kala itu.

Pelan namun pasti, Wenger berhasil meyakinkan orang-orang yang mengkritiknya. Bahkan lebih dari itu, pria yang menguasai berbagai bahasa (Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, hingga Jepang) ini mampu membawa Arsenal melesat dan sempat mendominasi Liga Inggris.

Tahun 1998-2006 menjadi periode emas Wenger bersama Arsenal. Selama delapan tahun ini, Wenger mempersembahkan tiga trofi Liga Premier Inggris, empat gelar Piala FA, dan mencapai final Liga Champions. Selain itu, Wenger membawa Arsenal sebagai satu-satunya tim yang menyandang status Invincibles alias tak terkalahkan dalam semusim Liga Inggris pada 2003/2004.

Namun, sejak itu karier Wenger di Arsenal terus meredup. Jangankan trofi Liga Champions, Arsenal tak pernah lagi menambah koleksi Liga Inggris sejak 2004. Hanya Piala FA dan Community Shield yang menjadi penghibur pasukan Wenger selama lebih dari satu dekade terakhir.

Wenger lebih sering muncul di media karena perseteruannya dengan Jose Mourinho ketimbang prestasi yang dipersembahkan kepada Arsenal. Teriakan “Wenger Out” semakin mengemuka. Namun, kakek berusia 68 tahun itu seolah menutup telinga dan berusaha membuai fans The Gunners dengan kenangan manis yang sudah diberikannya di masa lalu. Sampai akhirnya, Arsene Wenger  benar-benar legawa meletakkan jabatannya pada musim 2017/2018 ini.