Tottenham Berpotensi, Tapi Sulit Raih Trofi

Tottenham Hotspur (Reuters/Matthew Childs)
23 April 2018 06:25 WIB Chrisna Chaniscara Dunia Share :

Solopos.com, LONDON — “Lads, ini adalah Tottenham”. Kalimat itu sering diucapkan pelatih legendaris Manchester United (MU), Sir Alex Ferguson, saat hendak menghadapi Tottenham Hotspur di sebuah laga krusial. Meski kelihatannya seperti kalimat penyemangat, ucapan itu sebenarnya mengandung makna agar penggawa MU tak perlu takut melawan Spurs.

Dulu Tottenham memang dikenal sebagai tim yang mudah rubuh layaknya susunan kartu yang tertiup angin. Namun stereotip itu perlahan hilang saat Spurs ditangani pelatih asal Argentina, Mauricio Pochettino, sejak 2014. Dengan deretan pemain muda berbakat macam Harry Kane, Christian Eriksen hingga Dele Alli, Tottenham kini menjadi tim yang disegani setelah sukses lolos ke Liga Champions tiga musim beruntun.

Tokopedia

Namun ucapan terkenal Ferguson seperti kembali menemukan pembenaran saat Spurs dibungkam United dalam semifinal Piala FA di Wembley, Minggu (22/4) dini hari WIB. Sempat unggul cepat lewat Alli dan menguasai sepanjang babak pertama, Tottenham akhirnya takluk 1-2 setelah United membalikkan keadaan via Alexis Sanchez dan Ander Herrera. Kekalahan itu membuat Spurs memperpanjang puasa gelar selama 10 tahun. Kali terakhir Lilywhites mengoleksi trofi saat menjuarai Piala Liga tahun 2008.

“Saya pikir kami perlu memahami dari mana kami berasal. Memang mudah bicara tentang memenangi trofi. Namun untuk juara Anda harus menghadapi United, Chelsea atau Manchester City dan itu tidak mudah. Kami harus benar-benar kompeten,” ujar Pochettino seperti dilansir ESPN, Minggu.

Spurs seperti mengalami dejavu setelah musim lalu juga tersingkir di semifinal Piala FA, saat itu mereka takluk dari Chelsea. Jika dirunut, Tottenham selalu kalah dalam tujuh semifinal terakhir mereka, rekor terburuk sepanjang sejarah Piala FA. Kembali gagal memboyong trofi membuat pilar Tottenham seperti Kane dan Alli mulai frustrasi. Kane menganggap kekalahan dari MU bakal merembet hingga akhir musim kompetisi. “Namun kami masih punya tugas [di Liga Premier],” ujarnya.

Bagi United, kemenangan itu membawa mereka tampil di final ke-29 di turnamen domestik (20 Piala FA, sembilan Piala Liga), terbanyak di Negeri Ratu Elizabeth. Setan Merah bakal menyamai Arsenal sebagai pemegang trofi terbanyak Piala FA (13) apabila mampu membekuk Chelsea atau Southampton di final yang digelar 19 Mei.

Penampilan impresif anak asuh Jose Mourinho sebenarnya sudah terlihat sejak awal turnamen. Total mereka memasukkan 12 gol dengan hanya kebobolan satu gol untuk mencapai babak pamungkas. Striker mereka, Romelu Lukaku, juga menjadi top scorer sementara turnamen dengan lima gol. Mourinho pun menyindir beberapa pundit yang kerap mengkritik penampilan timnya.

“Kami harus bertanya pada diri kami mengapa mereka terlalu banyak mengkritik kami? Kami bisa finis kedua dengan tambahan enam poin lagi. Itu [final Piala FA] juga akan menjadi final keempat dalam tiga tahun. Mungkin terlalu banyak kritik di sekitar tim,” cetus Mourinho.