Lolos ke Final Liga Champions, Madrid Efektif atau Beruntung?

Real Madrid (Reuters/Juan Medina)
03 Mei 2018 00:25 WIB Chrisna Chaniscara Dunia Share :

Solopos.com, MADRID - “Jika Anda melihat dua pertandingan antara kami dan Madrid, saya rasa kami adalah tim yang lebih baik.” Kalimat itu dilontarkan Pelatih Bayern Munich, Jupp Heynckes, seusai timnya disingkirkan Real Madrid di semifinal Liga Champions dengan agregat 3-4.

Heynckes memang pantas kesal. Sebanyak apapun serangan yang mereka gelontorkan, sebanyak itulah mereka menelan kekecewaan. Perbincangan seputar efektivitas serangan memang cukup ramai sejak Madrid mempermalukan Bayern dengan skor 2-1 di leg I semifinal di Allianz Arena.

Di laga itu, Los Blancos yang sempat ketar-ketir setelah tertinggal lebih dulu lewat gol Joshua Kimmich akhirnya menang dengan memanfaatkan jumlah peluang minimal. Dua gol El Real di laga itu diraih hanya dari dua tembakan ke gawang!

Situasi hampir mirip terulang di leg II di Santiago Bernabeu. Luka Modric dkk. kembali deg-degan saat Kimmich sudah menjebol gawang mereka saat laga baru beranjak tiga menit. Gelombang serangan pun mereka ciptakan. Total 22 tembakan diberondong Thomas Muller dkk. ke gawang yang dijaga Keylor Navas.

Padahal rata-rata tembakan yang mengancam Madrid musim ini di Bernabeu hanya 10,1 per laga. Madrid akhirnya lolos setelah mampu memaksimalkan dua dari tiga tembakan ke gawang mereka menjadi gol. “Ini Madrid yang berbeda dibanding beberapa tahun ini. Mereka punya keberuntungan yang luar biasa,” ucap legenda Chelsea, Frank Lampard, seperti dilansir Independent, Kamis (2/5/2018).

Pernyataan Lampard bisa saja diperdebatkan. Namun di dua leg menghadapi Bayern, El Real memang cenderung dinaungi keberuntungan. Salah satu momen paling krusial dalam leg II adalah saat Sven Ulreich membuat kesalahan yang mengantar Karim Benzema mencetak gol kedua dengan sangat mudah.

Tanpa mengecilkan penampilan luar biasa Keylor Navas, Bayern harusnya bisa membuat lebih banyak gol dalam laga tersebut. Keberuntungan yang lain adalah saat wasit Cuneyt Cakir tidak melihat handball Marcelo di kotak penalti. Seusai laga, sang pemain mengakui jika dia menyentuh bola dengan tangan.

Dilansir BBC, saat itu Madrid hanya memiliki ball possession 31% dengan jumlah operan 150 lebih sedikit dibanding Bayern. Pundit BBC yang juga mantan pemain Timnas Inggris, Chris Waddle, mengatakan Madrid sangat efektif dalam memanfaatkan keberuntungannya (dalam hal ini dua kesalahan Bayern). “Saya tak paham. Mereka tidak bermain bagus, tapi mereka bisa mencetak empat gol di dua leg,” ucap Waddle.

Gelandang Madrid, Toni Kroos, mengakui Bayern memang punya peluang lebih banyak. Namun, efektivitas Madrid di depan gawang lawan jadi pembeda. “Mungkin kami bukan tim terbaik, tapi kami lebih efektif. Kami tahu kami bisa mencetak gol di setiap kesempatan yang datang,” tukasnya.