Piala Dunia 2018: Misi Kroasia Lampaui Rekor 1998

Kroasia (Reuters/Albert Gea)
07 Juli 2018 14:15 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, SOCHI — Dua puluh tahun telah lewat dan Timnas Kroasia masih terbebani kesuksesan mereka di Piala Dunia 1998. Ya, setelah meraih juara ketiga di Prancis, tim berjuluk Vatreni itu tak lagi mampu berprestasi. Kroasia bahkan harus tersingkir sejak babak pertama di tiga penyelenggaraan terakhir Piala Dunia yang diikuti (2002, 2006, 2014).

Lolosnya Luka Modric dkk. ke perempatfinal Piala Dunia 2018 tentu amat disyukuri publik Kroasia. Namun, tekanan pada skuat Vatreni dari penggemar maupun media lokal justru makin meningkat. Mereka tak sabar menunggu Kroasia mengulangi memori 1998 saat Davor Suker dkk. menembus semifinal dalam keikutsertaan pertama di Piala Dunia tersebut.

Berbekal pemain papan atas macam Ivan Rakitic, Mario Mandzukic, Ivan Perisic hingga Modric, Kroasia berada di atas angin saat harus menghadapi tuan rumah Rusia dalam perempatfinal yang digelar di Olimpiyskiy, Minggu (8/7/2018) dini hari WIB. Bertaburnya pemain bintang di skuat Vatreni terbukti sukses membuat mereka mencetak delapan gol dalam empat laga yang telah dijalani di Rusia.

Jumlah itu sama banyaknya dengan enam laga mereka dalam dua penampilan Piala Dunia pada tahun 2006 dan 2014. Bek Kroasia, Dejan Lovren, bahkan sesumbar skuat sekarang mampu berprestasi lebih baik ketimbang tim di 1998.

“Tentu saja kami respek dengan generasi 1998 karena mereka mencatatkan kesuksesan terbesar dalam sejarah sepak bola Kroasia. Memang selalu ada beban untuk melebihi mereka. Saya sendiri yakin kami bisa lebih baik dari mereka,” tutur bek Liverpool ini seperti dilansir Reuters, Jumat (6/7/2018).

Namun Rusia tentu tak akan memberi karpet merah bagi Kroasia untuk mengulang kisah manisnya. Sebagai tuan rumah, tim berjuluk Sbornaya itu tentu bakal ngotot merebut tiket semifinal untuk kali pertama sejak 1966 (saat itu masih bernama Uni Soviet). Fleksibilitas taktik yang dimiliki Stanislav Cherchesov bisa bikin mimpi Kroasia untuk berjaya berantakan.

Rusia memang ibarat tim bunglon. Saat menghadapi tim berkekuatan setara atau lebih inferior, Artem Dzyuba dkk. bisa amat ofensif. Hal itu dibuktikan saat mereka menggasak Arab Saudi 5-0 dan Mesir 3-1. Saat melawan Spanyol di babak 16 besar, Sbornaya giliran memakai strategi ultradefensif dengan skema lima bek. Hasilnya mereka sukses memenangi laga lewat adu penalti meski hanya memiliki 21% penguasaan bola. Melawan Kroasia yang memiliki banyak pemain cepat, Rusia pun sudah menemukan kiat tersendiri untuk mematikan lawan.

“Mereka [Kroasia] tidak butuh penguasaan bola sepanjang waktu untuk membuat peluang. Hal itu tidak berarti Kroasia lebih lemah dari Spanyol. Mereka punya gaya bermain berbeda dan kami akan memanfaatkannya dengan strategi kami,” tutur winger Rusia, Aleksandr Golovin.