Saatnya Menanti Giroud Gundul

Olivier Giroud (Reuters/Charles Platiau)
17 Juli 2018 14:55 WIB Chrisna Chaniscara Dunia Share :

Solopos.com, PARIS - Olivier Giroud boleh jadi menjadi pemain starter Prancis yang paling “tidak berkontribusi” dalam kemenangan tim di Piala Dunia 2018. Meski terus dipasang sebagai pemain inti sejak matchday kedua, Giroud gagal mencetak satu gol pun sepanjang turnamen.

Jangankan menjebol gawang lawan, striker Chelsea ini gagal sekalipun melepaskan tembakan on target meski memiliki 13 peluang. Peran pemain 31 tahun ini bahkan hampir tak terlihat dalam laga final melawan Kroasia, Minggu (16/7/2018) malam WIB. Bisa dibilang, satu-satunya sumbangsih konkrit yang bisa dibanggakan sang pemain saat tampil 546 menit di Rusia hanyalah assist-nya pada Kylian Mbappe di babak 16 besar melawan Argentina.

Tokopedia

Terlepas statistik buruk tersebut, peran Giroud memang bukan sekadar sebagai pencetak gol. Giroud bertugas menjadi penghubung, memantulkan bola dan pembuka ruang dengan diplot sebagai striker tunggal. Mbappe dan Antoine Griezmann memanfaatkan betul hal itu di sepanjang turnamen dengan masing-masing membuat 4 gol. 

“Saya kira saya sudah tampil cukup baik di Piala Dunia 2018. Memang belum ada gol, tapi saya sudah memberikan assist. Saya tidak mempedulikan itu [kritik],” ujar Giroud seperti dilansir Four Four Two.

Namun sebelum Giroud, ternyata ada striker yang turut menjadi sorotan saat Les Bleus mengangkat trofi Piala Dunia 1998. Dia adalah Stephane Guivarc’h. Pelatih Prancis, Aime Jacquet, saat itu terkesan dengan penampilan sang pemain yang mampu bikin 21 gol dari 32 penampilan bersama Auxerre.

Ketajamannya di level klub membuat dia menjadi ujung tombak, mengalahkan David Trezeguet dan Thierry Henry yang masih sangat muda. Sayang, Guivarc’h gagal mencetak gol maupun assist meski tampil enam kali di Prancis.

Pelatih Prancis, Didier Deschamps, menyebut pemain seperti Giroud sangat penting dalam permainan meski tak mencetak gol. Terbukti, Giroud mampu mengulangi sejarah seorang Guivarc’h di Rusia. “Kami butuh dia untuk menyokong permainan. Dia penting untuk gaya kami,” ujarnya dilansir RTE.

Setelah mengangkat trofi, Giroud kini harus segera memenuhi nazarnya yakni memangkas rambut sampai botak. Dia berjanji melakukan hal itu setelah membaptis sang anak pada 22 Juli. “Kami sudah menuliskan satu halaman indah dalam sejarah sepak bola Prancis. Jadi saya akan melakukannya [memotong rambut].”