Lagi! Persis Solo Didenda PSSI karena Ulah Suporter

Pasoepati merayakan kemenangan Persis Solo (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
20 Juli 2018 21:25 WIB Moh Khodiq Duhri Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO — Untuk kali kesekian, manajemen Persis Solo harus mendapat sanksi denda dari Komisi Dispilin (Komdis) PSSI karena ulah suporternya sendiri. Terakhir, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi denda total senilai Rp90 juta kepada Persis Solo karena ulah suporternya di dua pertandingan berbeda.

Denda senilai Rp75 juta dijatuhkan karena ulah suporter Persis Solo yang terlibat keributan dengan suporter Persik Kendal di Stadion Utama Bahurekso Kendal pada 9 Juli 2018 lalu. Dalam laga itu, suporter Persis Solo juga kedapatan merusak pagar pembatas tribune stadion.

Sementara denda Rp15 juta dijatuhkan kepada Persis Solo karena ulah suporter yang melempar botol ke tengah lapangan saat Persis Solo menjamu Cilegon United di Stadion Manahan pada 4 Juli 2018 lalu. Ironisnya, keributan suporter di dua pertandingan itu justru terjadi saat Persis Solo sudah unggul dan memastikan kemenangan atas lawannya.

Suporter Persis Solo sepertinya perlu belajar dengan pengalaman yang sudah-sudah. Tidak dimungkiri, ulah suporter itu jelas merugikan tim kesayangan mereka. Sejak tahun lalu, manajemen Persis Solo harus mengeluarkan Rp248.750.000 untuk membayar denda kepada Komdis PSSI karena ulah suporter sendiri. Itu belum termasuk sanksi denda yang diberikan kepada pelatih, staf pelatih, pemain, panpel, hingga masseur yang totalnya mencapai lebih dari Rp500 juta.

“Ini seharusnya jadi bahan instrospeksi untuk suporter Persis Solo. Kalau kita mencintai tim ini, sebaiknya jangan sampai tim ini terkena sanksi karena ulah kita sendiri,” ucap salah satu sesepuh Pasoepati Prapto Koting kepada Solopos.com, Jumat (20/7).

Prapto mengakui apa yang dilakukan oleh para suporter itu salah. Namun, menurutnya, tidak bijak rasanya bila hanya menyalahkan suporter sebagai biang keributan. Dia menilai untuk membenahi sikap suporter harus melibatkan banyak pihak.

“Manajemen harus sering berkomunikasi dengan suporter untuk memberikan informasi terkait regulasi. Petugas keamanan juga harus lebih sigap dalam menanggulangi keributan suporter di dalam maupun di luar stadion,” ujarnya.

Prapto berharap PT Liga Indonesia Baru (LIB) maupun PSSI juga harus terlibat dalam memberi pengarahan kepada suporter. Agenda pertemuan sesama suporter bisa digelar sesering mungkin untuk menangulangi keributan. “Indonesia itu negara besar. Indonesia harus bisa membuat suporter lebih bermartabat. Meski itu susah dilakukan, tapi harus berani dicoba,” paparnya.