Perjalanan Karier Alisson Becker, Kiper Termahal Dunia

Alisson Becker (Twitter LFC)
21 Juli 2018 21:30 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, SOLO - Sosok Alisson Becker baru mencuat setahun belakangan. Pada musim 2016/2017, dia bahkan masih menjadi cadangan kiper Wojciech Szczesny di AS Roma. Namun, setahun terakhir namanya semakin berkibar di Eropa dan bahkan Piala Dunia 2018.

Kiper asal Brasil itu membawa Roma finis ketiga di Seri-A dan menembus semifinal Liga Champions 2017/2018. Dia juga menjadi pilihan utama di sektor penjaga gawang Timnas Brasil pada Piala Dunia 2018 lalu. Alisson semakin jadi sorotan setelah memecahkan rekor transfer kiper termahal di dunia dengan bergabung ke Liverpool berbanderol 65 juta poundsterling (Rp1,2 triliun), Kamis (20/7/2018) waktu setempat.

Tokopedia

Perjalanan karier kiper termahal di dunia tersebut tidaklah semulus jalan tol. Penjaga gawang berusia 25 tahun ini pernah mengalami masa-masa sulit dalam awal kariernya bersama klub Brasil, Internacional.

"Secara fisik, saya telat dewasa, jadi semua kiper seumuran saya lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan diriku. Kami menjalani tes pertumbuhan kedewasaan [secara fisik] dan para pemain diberi nilai 1-5. Teman-temanku berada di level 5, saya masih berada di level 2. Dan itu bukan kabar bagus untuk seorang kiper kan? [Karena untuk jadi kiper], Anda harus bisa meloncat tinggi, bisa mengkaver gawang," ungkap Alisson seperti dilansir Liverpoolecho.co.uk, Jumat (20/7/2018).

Tapi Alisson pantang menyerah. "Klub sempat meragukan perkembangan saya, karena saya selalu yang terpendek. Lalu Tuhan mendengarku, karena hanya dalam setahun, saya mulai tumbuh dewasa. Teknikku perkembang pesat. Dan hal ajaib terjadi, saya akhirnya tumbuh, dalam setahun tinggi badanku naik dari 170 cm menjadi 187 cm. Level pertumbuhanku meningkat ke level 4. Mendadak saya bisa mencapai fisik dan teknik prima," jelas Alisson.

Alisson tumbuh di keluarga dengan DNA kiper. Kakeknya seorang kiper klub amatir di Novo Hamburgo, ibunya penjaga gawang bola tangan di sekolahnya, sedangkan ayahnya merupakan kiper di kesebelasan perusahaan tempatnya bekerja. "Jadi, mungkin ini sudah bagian dari takdir Tuhan buatku, begitukan?" urainya.

Pilihan untuk menempati pos penjaga gawang seolah terkesan karena kebetulan. Saat masih kecil, kakaknya, Muriel, sedang bermain dengan teman-temannya. Karena tubuhnya lebih pendek dibanding Muriel dan teman-temannya, Alisson diminta untuk menjadi penjaga gawang.

Muriel semakin berjasa atas kesuksesan Alisson ketika mereka berdua sama-sama menjadi penjaga gawang cadangan Internacional, bersaing dengan Agenor Detofol. Selain sebagai kompetitor, Muriel menjadi motivator bagi Allison.

"Saya pikir semua kakak laki-laki diberi anugerah yang sama [melindungi dan memotivasi sang adik]. Dia juga membantuku bagaimana mengontrol emosi. Itu karena saya sempat ingin mengakhiri karier sebagai penjaga gawang."