Sosok Muhammad Iqbal, Korban Meninggal Bentrokan Suporter di Laga PSIM Vs PSS

Warga RT 04 Dusun Balongan, Timbulharjo, Sewon memadati kediaman almarhum Muhammad Iqbal Putra yang menjadi korban bentrok supporter pertandingan PSS vs PSIM di Stadion Sultan Agung Bantul (SSA). - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
27 Juli 2018 19:25 WIB Salsabila Annisa Azmi Indonesia Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Bentrok suporter terjadi usai laga PSIM Jogja melawan PSS Sleman dalam lanjutan Liga 2 Indonesia di Stadion Sultan Agung, Bantul, Kamis (26/7/2018) sore WIB. Satu korban meninggal akibat bentrok itu setelah sempat dirawat di rumah sakit.

Korban meninggal dunia itu adalah Muhammad Iqbal Setyawan, Warga RT 04 Dusun Balongan, Timbulharjo, Sewon. Iqbal merupakan anak dari anggota kepolisian Polsek Pleret. Jenazah dimakamkan Jumat (27/7/2018) pukul 14.00 WIB.

Tokopedia

Kapolsek Pleret AKP Sumanto membenarkan almarhum merupakan anak dari salah satu anggota Polsek Pleret. Sumanto mengatakan saat ini kewenangan pencarian pelaku masih dalam proses perundingan.

"Kami belum tahu kasus ini jadi wewenang siapa, karena itu kejadian ada di Jetis dan rumah sakitnya Rumah Sakit Permata Pleret. Kami masih dalam kondisi berduka karena korban adalah anak anggota kepolisian kami," kata Sumanto, Rabu.

Saat dikunjungi Harianjogja.com, ayah korban, Aiptu Suradi, mengatakan bahwa sejak dua hari sebelum pertandingan, almarhum sudah memohon izinnya untuk berangkat ke SSA. Suradi pun mengizinkan anaknya menonton pertandingan tersebut.

"Ketika hari H dia masih Whatsapp saya, ngobrol hingga jam 12 siang. Bilang lagi 'pak aku nonton yo'. Tetapi kok saya ada firasat tidak enak, saya bilang mbok rasah, keadaannya [supporter] begitu kok," kata Suradi, Jumat (27/7/2018).

Namun almarhum tetap berkukuh menonton pertandingan tersebut dengan satu orang temannya. Suradi pun akhirnya mengantarkan sang anak ke stadion tepat pukul 15.00 WIB. Bahkan Suradi meminta bantuan teman-teman kepolisian yang berjaga di stadion untuk membantu anaknya masuk ke stadion.

"Saya benar-benar enggak tahu kalau akan seperti ini jadinya. Saya enggak tahu itu terakhir kali saya lihat Iqbal," kata Suradi.

Suradi mengatakan almarhum merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Suradi mengaku sejak kecil Iqbal memang menyukai sepakbola, namun Suradi mengatakan dia tidak tahu tim kesukaan anaknya. Suradi pun tidak tahu menahu soal kejadian di dalam SSA yang menyebabkan nyawa anaknya melayang.

"Saya dengar setelah tanding ada keributan. Saya langsung kontak anak saya, tetapi kok tidak bisa. Jam 18.00 WIB dapat kabar anak saya jadi korban bentrok. Seluruh warga begitu tau langsung nyebar cari ke rumah sakit sekitar stadion, setelah ketemu ternyata anak saya sudah enggak ada," kata Suradi.

Suradi berharap pelaku yang membuat nyawa anaknya melayang dapat segera ditemukan oleh kepolisian. Dia mengharap agar pelaku diberi ganjaran yang setimpal.