2 Penganiaya Iqbal Saat Derbi DIY Ditangkap Polisi

ilustrasi penganiayaan dan pengeroyokan. (Solopos/Dok)
28 Juli 2018 15:38 WIB I Ketut Sawitra Mustika Indonesia Share :

Solopos.com, JOGJA -- Polda DIY berhasil menangkap dua orang yang diduga kuat sebagai pelaku pengeroyokan terhadap Muhammad Iqbal Setyawan seusai laga derbi DIY antara PSIM Jogja dan PSS Sleman, Kamis (26/7/2018), yang berujung kematian. Kedua terduga pelaku itu merupakan pemuda asal Bantul.

Pengembangan kasus terus dilakukan setelah penangkapan kedua pemuda itu. Dua terduga pelaku tersebut masing-masing berinisial LGF dan WTP. LGF beralamat di Sewon, Bantul. dan berusia 21 tahun. Sedangkan WTP beralamat di Banguntapan, Bantul, dan usianya masih 19 tahun. Polisi mencokok terduga pelaku pada Sabtu (28/7/2018).

Tokopedia

Kapolda DIY Brigjen Pol. Ahmad Dofiri mengatakan polisi akan mengusut tuntas kasus yang mencoreng derbi DIY ini. Pihaknya menyesalkan aksi sweeping yang dilakukan sekelompok orang terhadap orang-orang yang dicurigai berasal dari kelompok yang berlawanan.

"Yang kami sesalkan adalah perilaku mereka tidak masuk akal. Mereka men-sweeping orang. Yang meninggal ini kan belum tahu BCS [Brigata Curva Sud] atau Slemania [kelompok suporter PSS]. Yang jelas kayaknya bukan. Artinya kalau menggeledah, yang bukan kelompoknya, dianggap musuh. Ini pemikiran yang tidak boleh terjadi. Oleh karena itu kami usut tuntas," ujar Dofiri di sela-sela Kapolda Cup.

Muhammad Iqbal Setyawan, salah satu penonton dalam derbi DIY, meninggal dunia setelah dikeroyok sejumlah orang di sekitar Stadion Sultan Agung, Bantul, Kamis lalu. Warga Dusun Balong, Timbulharjo, Sewon, Bantul, itu sempat dilarikan ke rumah sakit, tapi nyawanya tidak tertolong akibat luka-luka yang diderita.

Hingga kini, polisi belum menetapkan terduga pelaku sebagai tersangka. Jika dalam pemeriksaan lebih lanjut ditemukan bukti yang cukup, barulah kedua orang itu bisa ditetapkan jadi tersangka. Dofiri enggan menyebut identitas kelompok dua pelaku karena tak ingin keadaan bertambah panas.

"[pelakunya] Anak muda yang masih labil jadi tidak bisa meredam emosi dan ikut-ikutan. Tapi ini yang namanya massa, satu teriak, yang lain ikut teriak," ujarnya.

Dofiri menambahkan, polisi terus mengembangkan kasus penganiayaan ini. Siapa pun yang terlibat harus bertanggung jawab, karena telah menghilangkan nyawa seseorang.