Piala AFF U-16: Redam Emosi, Kunci Indonesia Cium Trofi

Brylian Neglehta Dwiki Aldama (kanan) berusaha melewati adangan pemain Thailand di final Piala AFF U-16 di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu (11/9 - 2018). (Antara / M Risyal Hidayat)
11 Agustus 2018 22:05 WIB Adib Muttaqin Asfar Indonesia Share :

Solopos.com, SIDOARJO -- Indonesia akhirnya bisa mencium trofi untuk kali pertama sejak 2013 lewat Timnas U-16. Perjuangan mereka menyapu bersih kemenangan sejak penyisihan di fase grup hingga meraih trofi juara Piala AFF U-16 Sabtu (11/8/2018) malam ini di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Mereka mengalahkan Thailand melalui adu penalti dengan cara meyakinkan.

Ini merupakan pencapaian langka mengingat Indonesia selalu kandas di final jika bertemua dua jagoan Asia Tenggara lainnya, Thailand dan Vietnam. Namun kali ini, mereka menaklukkan Thailand meski harus ditentukan lewat adu penalti. Namun adu penalti ini juga menguji mental anak-anak muda yang masih berusia belia ini. Pasalnya, belum lama ini Indonesia gagal menaklukkan drama adu saat menghadapi Malaysia di semifinal Piala AFF U-19.

Tokopedia

Perjalanan Bagus Kahfi, Bagas Kaffa, Supriyadi, dan kawan-kawan kali ini bisa menaklukkan nama-nama besar timnas Thailand dan Vietnam. Mereka menaklukkan Vietnam dengan skor 4-2 dalam laga yang sangat berat, dan yang istimewa mengalahkan Malaysia yang sepanjang sejarah kerap diwarnai momen emosional. Namun, Indonesia kali ini mampu meredam emosi dan bermain sangat baik.

"Saya sangat bangga dengan hasil ini, meraih juara tahun 2018 ini," kata Bagas Kaffa, bek kanan Indonesia U-16 saat ditanya kru Indosiar di samping saudara kembarnya, Bagus Kahfi. Keduanya kembali bermain baik bahu membahu di final. Meski tak mencetak gol, Kahfi mengubah posisinya dari yang biasanya sebagai predator di kotak penalti lawan menjadi pengumpan. Posisi striker de facto kali ini diisi oleh Supriyadi yang mencetak 1 gol di babak pertama.

Peran penting lainnya diperlihatkan oleh seluruh skuat muda ini. Di antaranya Brylian Negiehta, gelandang sentral yang selalu bermain brilian sebagai poros di tengah. Kemampuannya mengontrol ritme permainan dan umpan-umpan akuratnya menopang pemain bertipe menyerang seperti Supriyadi, Sutan Zico, dan Kahfi yang dikenal eksplosif. Terlepas dari kehidupan pribadinya yang mengundang empati, Brylian konsisten tampil sangat baik di lapangan tengah.

Indonesia juga harus berterimakasih kepada kapten tim David Maulana dan Andre yang jarang terlambat menutup pergerakan pemain lawan. Kerja keras mereka membuat duet menara di jantung pertahanan Indonesia yaitu David Maulana dan Komang bisa fokus menutup celah di daerah pertahanan Indonesia. Duet bek sentral ini juga selalu tampil tenang menghadapi serangan balik lawan yang mematikan, termasuk saat Thailand mulai menekan di menit 74.

Terakhir, menghadapi adu penalti biasanya Indonesia memang kedodoran. Namun mentalitas yang kuat dari anak-anak muda Indonesia kali ini menaklukkan tantangan itu. Seluruh eksekutor mampu menjalankan tugasnya, bahkan Ernando, sang kiper, mampu menggagalkan dua eksekusi pemain Thailand.

Indonesia pun berpesta. Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi tak menyembunyikan kegembiraannya dengan mencium kepala Brylian dkk satu persatu sebelum selebrasi. Publik di Stadion Gelora Delta Sidoarjo pun terus menerus memberikan apresiasinya dengan tepuk ala Viking Clap yang kini jadi ikon setiap kali timnas meraih kemenangan.

Sayang, publik Gelora Delta masih tak menunjukkan sikap simpatik kala skuat Timnas Malaysia U-16 naik panggung untuk meraih medali. Terdengar teriakan "huuu" mengiringi prosesi itu. Padahal Indonesia harus kembali menghadapi ujian mental yang sesungguhnya dalam Piala Asia U-17 jauh di luar publik sendiri.