Seri-A: Efek Ronaldo

Cristiano Ronaldo (Reuters - Massimo Pinca)
16 Agustus 2018 00:05 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, TURIN -- Seri-A pernah menjadi klibat bintang-bintang terbaik di dunia. Pemain seperti Diego Armando Maradona, Marco Van Basten, Ruud Gullit, hingga Zinedine Zidane, memilih berlabuh di kompetisi kasta tertinggi di Italia ini.

 Namun, pamor Seri-A perlahan mulai meredup. Skandal pengaturan skor mencoreng kompetisi kasta tertinggi di Negeri Piza ini. Beberapa pemain berlabel bintang juga mulai mengalihkan pandangan ke Liga Primera Spanyol atau Liga Premier Inggris.

Meski demikian, pamor Seri-A digadang-gadang bakal kembali terangkat setelah megabintang dunia, Cristiano Ronaldo, secara mengejutkan hengkang dari Real Madrid ke Juventus pada musim panas ini. Tidak ada yang menyangka pemain berjuluk CR7 itu memilih Seri-A sebagai pelabuhan baru dalam kariernya. Bianconeri, julukan Juve, pun rela merogoh kocek sekitar 100 juta poundsterling (Rp1,8 triliun) untuk mendatangkan peraih lima Ballon d’Or tersebut.

“Kami [klub-klub Seri-A] tidak berinvestasi besar seperti yang biasa kami lakukan pada 1990-an dan awal 2000-an. Kepindahan Cristiano akan memberi dampak besar tentang bagaimana pandangan Seri-A sekarang, yakni para pemainnya, sponsor, dan suporter. Kami memiliki salah satu pesepak bola terbesar di dunia yang pernah ada, dalam waktu lama, dan dia ingin berada di sini, yang lainnya pun akan mengikuti,” jelas legenda AC Milan yang pernah berkecimpung di Seri-A selama 25 tahun lebih, Paulo Maldini, seperti dilansir thetimes.co.uk, Rabu (15/8/2018).

Kedatangan Ronaldo membuat Juve digadang-gadang bakal semakin menancapkan dominasi mereka di Negeri Piza. Bianconeri tak terbendung dengan menyabet scudetto dalam tujuh musim beruntun. Wajar jika sejumlah bursa taruhan kembali menempatkan Juve sebagai favorit juara di Seri-A musim ini.

Kendati demikian, klub-klub lain Seri-A tidak lantas berpangku tangan melihat pergerakan Juve. Inter Milan menjadi tim yang paling potensial menjadi pesaing ketat Bianconeri. Tim berjuluk Nerazzurri tersebut  digawangi salah satu top scorer Seri-A musim lalu, Mauro Icardi. Inter juga mendatangkan amunisi baru yang merata di beberapa lini, seperti Radja Nainggolan, Sime Vrsaljko, Stefan de Vrij, dan Kwadwo Asamoah.

"Target kami menancapkan kaki di antara tim-tim terkuat. Kami ingin bersaing dengan tim-tim terbaik. Saya yakin mengapa kami tidak bisa melakukan itu musim ini, tidak ada yang bisa membuat kami merasa inferior," ujar Pelatih Inter, Lucciano Spalletti, seperti dikutip goal.com.

Bagaimana dengan Napoli? Partenopei memang kerikil pengganggu Juve dalam beberapa tahun terakhir. Tapi hengkangnya Pelatih Maruzio Sarri dan gelandang Jorginho ke Chelsea membuat Napoli harus memulai menata strategi dari awal. Untungnya, Partenopei mendapat pengganti pelatih bertangan dingin, Carlo Ancelotti. Don Carlo, julukan Ancelotti, akhirnya comeback ke Seri-A setelah melanglang buana ke Inggris, Spanyol, Prancis, dan Jerman. Saat masih membesut Milan, Ancelotti mempersembahkan sebuah scudetto dan dua trofi Liga Champions.

Sementara itu, Roma kehilangan dua pilarnya, kiper Allison Becker yang pindah ke Liverpool dan Nainggolan yang hengkang ke Inter. Tim besutan Eusebio Di Francesco tersebut memilih menggaet pemain-pemain yang fresh, termasuk putra eks bintang Milan Patrick Kluivert, Justin Kluivert.

Milan sendiri berusaha bangkit perlahan-lahan dengan pemilik baru mereka, Elliot Management. Milan tidak terlalu jor-joran mengeluarkan uang untuk mendatang pemain baru. Meski demikian, mereka berharap bisa finis empat besar agar bisa kembali ke habitat lama mereka, bermain di Liga Champions.

Tokopedia