Saran Sesepuh Pasoepati Agar Persis Solo Bisa Gunakan Stadion Sriwedari sebagai Kandang

Persis Solo (Solopos/Imam Yudha Saputra)
09 Oktober 2018 21:25 WIB Chrisna Chaniscara Indonesia Share :

Solopos.com, SOLOPersis Solo didorong membikin nota kesepahaman dengan sejumlah elemen pertandingan agar keinginan bermarkas di Stadion Sriwedari di babak delapan besar Liga 2 dapat terwujud. Kontrak tersebut bakal menjadi jaminan agar suporter dan penonton bisa tertib selama menonton pertandingan.

Hal itu disampaikan sesepuh Pasoepati, Mayor Haristanto, menyikapi upaya Persis untuk kembali bermarkas di Kota Bengawan apabila lolos ke delapan besar. Menurut Mayor, manajemen Laskar Sambernyawa harus berani menyodorkan nota kesepahaman pada pihak terkait untuk menjaga kondusivitas Solo selama Persis berkandang di Stadion Sriwedari. Upaya tersebut dinilai bisa membantu meyakinkan Pemkot dan kepolisian untuk memberikan izin pada Persis.

“Manajemen, panpel dan kelompok suporter Persis harus meneken kontrak agar bisa menjaga ketertiban dan tidak merangsek ke lapangan saat pertandingan. Ini butuh edukasi dan kesadaran banyak pihak,” ujar Mayor saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa (9/10/2018).

Sejauh ini manajemen Persis terus berupaya melobi Wali Kota Solo, F.X Hadi Rudyatmo, agar diizinkan berkandang di Stadion Sriwedari di babak delapan besar. Persis pun siap membenahi stadion dengan pemberian pagar, penambahan lampu serta perbaikan fasilitas penunjang seperti toilet. Mayor memahami betapa repotnya Persis ketika harus ber-homebase di Madiun beberapa bulan terakhir.

“Biaya operasional membengkak, pendapatan dan dukungan suporter tidak maksimal. Kami rasa pihak terkait perlu memberikan kepercayaan pada suporter dan Persis. Mungkin bisa dicoba sekali laga dulu. Apabila tidak sesuai harapan, harus kembali ke Madiun. Hal itu bisa ditambahkan di nota kesepahaman,” kata dia.

Lebih jauh, Mayor mendorong adanya terobosan berani dalam hal manajemen penonton untuk mengantisipasi membludaknya stadion hingga memicu kerusuhan. Dia mengusulkan pembatasan penonton maksimal 8.000 orang agar kondusivitas dalam stadion bisa terjaga. Penonton yang tak kebagian tiket dapat diarahkan untuk menonton bareng via live streaming di sejumlah kantung suporter.

“Berikan juga harga tiket dua kali lipat dari biasanya, itu bisa menjadi instrumen penyeleksi penonton. Memang ini bisa memantik kekecewaan suporter, tapi itu perlu dipertimbangkan untuk mengantisipasi efek negatif yang lebih besar.”

Manajer Persis, Setiawan Muhamad, hingga kini masih menunggu jawaban dari Wali Kota ihwal izin pemakaian Sriwedari di babak delapan besar. Pihaknya berharap Wali Kota dapat memberi kemudahan agar Persis bisa kembali bermarkas di kota asalnya.

“Sebenarnya kami masih menunggu respons yang lebih positif. Kemarin kami sudah memberi proposal, semoga pemangku kebijakan terkait bisa memahami perjuangan tim untuk lolos ke delapan besar,” ujar Setiawan saat ditemui di Stadion Sriwedari, Selasa.