Gonta-Ganti Pelatih Jadi Penyebab Persis Solo Gagal ke 8 Besar?

Pemain Persis Solo merayakan gol (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
16 Oktober 2018 14:25 WIB Moh Khodiq Duhri Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO — Kegagalan Persis Solo melaju ke babak delapan besar Liga 2 menyisakan luka mendalam di kalangan pemain, tim pelatih, manajemen hingga suporter. Adanya pergantian pelatih kepala sebanyak tiga kali dalam satu musim dinilai menjadi salah satu penyebab kegagalan tim melaju ke babak delapan besar.

Sebelum kompetisi berlangsung, manajemen menunjuk Freddy Muli sebagai manajer sekaligus pelatih kepala Persis Solo. Beberapa hari jelang dimulainya kompetisi, pelatih senior itu memilih mengundurkan diri dari kursi pelatih karena merasa tidak sepaham dengan manajemen.

Mundurnya Freddy Muli membuat Marwal Iskandar yang berstatus asisten pelatih sempat memegang komando tim pelatih. Namun, manajemen akhirnya menunjuk Jafri Sastra bersama asistennya Budi Kurnia untuk mengambil alih kursi kepelatihan. Marwal Iskandar pun akhirnya dilepas.

Di bawah asuhan Jafri Sastra, Persis Solo sempat dominan di awal musim. Memasuki pertengahan musim, pemainan Laskar Sambernyawa mulai tidak konsisten. Galih Sudaryono dkk. selalu kesulitan untuk meraih poin sempurna di laga tandang sehingga Persis Solo banyak kehilangan poin. Kondisi itu membuat manajemen mengambil langkah tegas dengan memberhentikan Jafri Sastra saat musim kompetisi sudah menginjak 14 laga.

Manajemen kemudian menujuk Agus Yuwono sebagai pengganti Jafri Sastra. Di tangan Agus Yuwono, permainan Persis Solo juga belum konsisten. Dari sembilan laga, Persis Solo hanya mampu mengemas tiga kemenangan. Empat laga lain berakhir dengan kekalahan. Sementara dua laga lainnya berakhir imbang.

“Yang pasti itu membuat kami sebagai suporter ikut sedih. Bongkar pasang pelatih tentu bisa membingungkan pemain. Itu karena beda pelatih, beda gaya. Semoga ke depan nama coach Widyantoro bisa diperhitungkan lagi untuk membesut Persis Solo. Persis Solo tidak boleh menyerah. Tunggu tahun depan,” kata salah satu sesepuh Pasoepati Mayor Haristanto saat dihubungi Solopos.com, Senin (15/10/2018) malam.

Proses renovasi Stadion Manahan Solo juga memengaruhi performa Persis Solo. Dari enam laga kandang yang dimainkan di Stadion Wilis Madiun, Persis Solo hanya mampu mengemas tiga kemenangan. Tiga pertandingan lainnya berakhir imbang. Berbeda saat masih berkandang di Stadion Manahan Solo di mana Persis Solo bisa menyapu bersih lima laga home dengan kemenangan.

“Perpindahan home ke Madiun sungguh menyulitkan semuanya. Baik finansial maupun dukungan suporter. Tahun ini benar-benar tahun prihatin bagi Persis Solo. Semoga manajemen, publik Solo dan suporter bisa bersabar,” tambah Mayor.