Desakan #EdyOut, Exco PSSI Mulai Buka Suara

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) didampingi Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono (kanan) memberikan keterangan pers mengenai penghentian sementara kompetisi Liga I di Jakarta, Selasa (25/9 - 2018). (Antara / Reno Esnir)
25 November 2018 23:00 WIB Newswire Indonesia Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Desakan agar Edy Rahmayadi mundur dari posisi Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) telah muncul sejak kekalahan pertama Timnas Indonesia di Grup B Piala AFF 2018. Kini, tagar #EdyOut viral di media sosial menyusul kegagalan timnas Indonesia lolos ke semifinal.

Tagar tersebut ditujukan kepada Edy yang dinilai gagal menjalankan organisasi dan membawa prestasi timnas Indonesia. Salah satu anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI Gusti Randa sadar dengan desakan dari masyarakat tersebut. Gusti mengaku bakal melakukan koreksi terhadapi kinerja Edy Rahmayadi saat Kongres Tahunan PSSI pada Januari mendatang.

Tidak hanya itu, Gusti juga meminta Edy Rahmayadi untuk segera mengambil sikap dengan adanya desakan tersebut. Sebab, masyarakat membutuhkan kepastian secepatnya.

"Harus ada koreksi, karena kritikan masyarakat bukan hoaks, ini nyata, sikapi dong, jangan santai saja. Harus disikapi secepatnya," kata Gusti ditemui usai rapat Exco di Hotel Sultan, Minggu (25/11/2018), dilansir Suara.com.

Rencananya, Kongres Tahunan PSSI akan digelar di Bali pada Januari 2019. Terkait hal tersebut, Gusti pun menyayangkan terlalu cepat diputuskannya lokasi tersebut.

"Tadi pas bicara tempat dan waktu [Kongres Tahunan] saya kasih tahu Sekjen [Ratu Tisha], jangan cuma ngomong Bali dan tanggal sekian, Ini bola salju, ketidaksukaan masyarakat saat ini jangan-jangan izin tak keluar. Apalagi 2019 tahun politik."

"Kalau PSSI kongres ada demo nanti di sana, bisa saja tak dapat izin dari kepolisian. Ini harus dipikirkan, ini organisasi jadi perhatian, kecuali kemarin menang terus, wong lagi dihantam, viral kok. Terus dibuat santai, nah."

"Saya pribadi kaji dahulu, memang statuta 8 pekan iya kasih tahu saja, tapi di mananya kaji dahulu. Ya udah diputuskan di Bali, ya monggo," jelasnya. Lebih lanjut, Gusti meminta Edy Rahmayadi lebih bijak dalam mengeluarkan komentar. Jika tidak mengerti, serahkan saja kepada yang lebih paham.

"Ya dikoreksi tak perlu keluarkan pernyataan yang ketum sendiri mungkin tak menguasai. Lebih baik silahkan tanya, misal regulasi, tunjuk saja ke komite yang berkepentingan. Bagaimana dengan Milla, silakan tanya sekjen, kan ini enggak, Luis Milla pasti datang, jadi viral, kan. Ini harus dikoreksi."

"Kan kalau timnas gagal ditanya wartawan, 'wartawan baik', itu kan ga ada koordinasinya. Mungkin saat itu doorstop lagi banyak pikiran jadi keluarnya gitu. Kan harusnya tidak, tanya yang berkepentingan," ujarnya.

Selain itu Gusti pun menanggapi bantuan dari pemerintah untuk PSSI. Ia pun menyayangkan sikap Edy Rahmayadi yang keluar tidak sesuai dengan semestinya. Saat itu, Edy menyebutkan pemerintah tidak memberikan bantuan kepada PSSI. Padahal, bantuan yang diberikan kepada PSSI bukan hanya berbentuk uang.

"Makanya ada statemen itu harus ditahan, bantuan [untuk] timnas kan tak cuma duit, ada klub pakai stadion pakai punya Pemprov dan Pemkab. Itu kan bantuan pemerintah. Makanya jangan blunder terus," pungkasnya.

Sumber : Suara.com