Perangi Match Fixing, PSSI Panggil 76 Akun Medsos

Ilustrasi Sepak Bola (Solopos/Whisnu Paksa)
21 Desember 2018 14:25 WIB Newswire Indonesia Share :

Solopos.com, JAKARTA - Sepak bola Indonesia tengah dilanda isu pengaturan skor (match fixing). PSSI beserta kepolisian pun ingin memberantas kasus yang meresahkan sepak bola nasional tersebut. Salah satu langkah PSSI adalah memanggil pemilik 76 akun media sosial yang menyebarkan isu pengaturan skor.

Seperti diketahui, ada sejumlah akun media sosial yang mengumbar adanya praktik pengaturan skor di sepak bola Indonesia. PSSI pun berharap bisa menemukan bukti dari akun-akun tersebut agar bisa memberantas mafia sepak bola.

"Dari media cetak dan elektronik, kemudian dari akun Twitter dan Instagram. Itu cukup membantu karena mereka seperti menyampaikan bahwa ada permainan dilakukan oleh seserorang dan sebagainya," kata Kepala staff ketua umum PSSI, Iwan Budiarto, seperti dikutip dari suara.com, Jumat (21/12/2018).

"Kita mau memanggil mereka untuk membawa bukti agar menguatkan kita melakukan proses ini tidak sekedar fitnah sehingga benar-benar diproses dan semua yang terlibat kita hukum. Tapi seperti yang disampaikan pak Joko Driyono kita itu cuma punya badan yudisial namanya Komite Disiplin. Komdis gak mudah memanggil orang kecuali football family," imbuhnya.

Seperti diketahui, kepolisian pun turut serta membantu memberantas mafia di sepak bola. Kapolri Jenderal Tito Karnavian pun sudah membuat satuan tugas (satgas) khusus untuk memberantas mafia sepak bola di Indonesia. Iwan menilai satgas ini bisa membantu PSSI untuk memanggil akun-akun medsos yang memang tak berkecimpung di sepak bola.

"Melibatkan orang yang sama sekali tidak terlibat di dalam sepak bola agak sulit untuk sekadar memberi undangan. Makanya inisiatif Kapolri itu luar baisa buat PSSI. Dengan instrumen itulah kita bisa memanggil orang itu," jelasnya.

Iwan menegaskan, pemanggilan orang-orang yang menyebar isu match fixing bukanlah untuk melaporkannya. Namun, untuk membantu PSSI memberikan fakta-fakta terkait isu yang disebarkannya.

"Bukan, tapi karena banyak akun akun yang sepertinya mempunyai fakta, tapi tak punya akses untuk menyampaikan ke federasi. Maka kita mengundang mereka. Tapi kita harus fair apakah mereka punya bukti," ia menambahkan.

"Kayanya dari 70 sekian macam-macam akunya, ada personal, ada akun yang diikuti banyak followers bahkan jutaan. Itu yang kita yakini mereka punya bukti tapi hanya kurang berani saja selama ini. Dari isinya mereka menyampaikan pernah melihat sesuatu yang kita butuhkan untuk pendalaman," tegasnya.

Sumber : Suara.com