PRODUKSI MEBEL : Jawa Tengah Masih Miskin Bahan Baku

JIBI/Solopos/Burhan Aris NugrahaPekerja menyelesaikan pembuatan meja dan kursi di Pasar Mebel Solo, Kamis (16 - 1). Total volume ekspor mebel mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Penurunan volume dan nilai ekspor diperkirakan akibat lesunya perekonomian dunia
20 Agustus 2014 19:55 WIB Redaksi Solopos Semarang Share :

Kanalsemarang.com, SEMARANG—Jawa Tengah kekurangan bahan baku mebel guna memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Kepala Bidang Industri Agro, Kimia dan Hasil Hutan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah Ratna Kawuri di Semarang, Rabu (20/8/2014), setiap tahun Jateng membutuhkan antara tiga hingga 3,5 juta meter kubik kayu untuk industri mebel, sedangkan yang bisa dipenuhi 400.000 kubik.

"Bahan baku menjadi salah satu permasalahan industri mebel di Jawa Tengah. 400.000 kubik ini berasal dari Perhutani dan hutan rakyat, jadi masih kekurangan banyak sekali," ujarnya seperti dikutip Antara.

Menurut dia, untuk memenuhi kekurangan bahan baku tersebut pihaknya melakukan kerja sama dengan beberapa daerah yang merupakan kantong bahan baku yang berada di luar Jawa di antaranya ke Kendari, Papua, dan Jambi.

"Tujuannya untuk memaksimalkan hasil mengingat Jateng sebagai wilayah industri dan pengolah kayu, sedangkan bahan bakunya lebih banyak tersedia di luar Jawa," ujarnya.

Ratna mengatakan dengan tersedianya bahan baku yang melimpah akan memudahkan pelaku usaha mebel untuk melakukan diversifikasi yaitu memilih jenis kayu.

"Jadi tidak hanya menggunakan kayu jati tetapi mulai menggunakan kayu nangka, mangga, dan karet," ujarnya.

Menurutnya dengan karakteristik masing-masing, berbagai jenis kayu tersebut juga banyak diminati oleh pembeli baik dari lokal maupun luar negeri.

Kondisi Jateng yang merupakan sentra kayu olahan menjadi salah satu keuntungan dimana banyak pembeli yang menjadikan daerah tersebut tujuan utama untuk memperoleh hasil mebel yang berkualitas.