KERUSUHAN SUPORTER SOLO : Komdis Haramkan Sepak Bola di Solo!

24 Oktober 2014 02:25 WIB Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO -- Sanksi tegas langsung dikeluarkan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menyikapi kerusuhan suporter dengan aparat kepolisian, saat laga Persis Solo kontra Martapura FC di Stadion Manahan, Rabu (22/10/2014).

Sanksi itu berupa larangan bagi Kota Solo menggelar kegiatan sepak bola, terhitung sejak Kamis (23/10) hingga enam bulan ke depan. Kerusuhan yang terjadi antara suporter Persis dan aparat kepolisian itu dipicu kemarahan penonton yang tak terima dengan kepemimpinan wasit Ahmad Jafri asal Makassar.

Saat laga akan berakhir, para suporter turun ke lapangan dan mengejar wasit hingga terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Akibat bentrokan itu, salah seorang suporter Persis, Joko Riyanto, 39, warga Ngaliyan RT 007/RW 002, Desa Pelem, Kecamatan Simo, Boyolali, tewas. Korban diduga terkena benda tajam di bagian dada sebelah kanan, saat terjadinya kerusuhan di depan pintu VVIP Stadion Manahan.

Akibat jatuhnya korban jiwa ini, Komdis PSSI pun langsung memberikan sanksi kepada publik sepak bola Kota Solo. Komdis PSSI, yang dipimpin oleh Hinca Pandjaitan itu, mengharamkan kegiatan apa pun yang berbau sepak bola di Kota Solo selama enam bulan ke depan.

“Kami memutuskan enam bulan, mulai dari hari ini, tidak ada kegiatan sepak bola di sana [Kota Solo]. Apa pun pertandingan itu baik yang dikelola oleh PT LI [Liga Indonesia] maupun timnas, tidak boleh digelar di sana. Ini kami lakukan untuk menghormati korban yang tewas di sana. Kami berharap ini akan menjadi introspeksi bagi semua suporter maupun stake holder sepak bola di Solo,” ujar Hinca, Kamis (23/10).

Meski menghukum tegas publik Kota Solo, Hinca tak melarang jika klub kebanggaan warga Kota Bengawan, Persis Solo, tetap tampil di kompetisi. Sebab, Komdis menilai terjadinya keributan bukan disebabkan oleh klub, namun karena suporter.

“Bukan klub yang menimbulkan kesalahan, tapi penonton yang sudah tidak terkendali. Kami minta aparat bertindak tegas untuk mengusut kasus ini, karena ini sudah masuk ranah kriminal,” tegas Hinca.

Menyikapi sanksi Komdis ini, ketua panpel Persis, Paulus Haryoto, mengaku kecewa. Ia menilai larangan menggelar kegiatan sepak bola selama enam bulan sangat merugikan bagi publik Kota Bengawan. “Ini sama saja membunuh [persepakbolaan di Kota Solo]. Sanksi ini tidak masuk akal. Seharusnya, Komdis lebih dulu melakukan investigasi sebelum memberikan sanksi. Tanpa mendengar penjelasan dan mencari apa penyebab hal ini terjadi, mereka langsung memberikan hukuman. Ini
tidak masuk akal,” ujar Paulus.

Paulus mengaku siap melawan sanksi dari Komdis ini. Selain akan melakukan banding, ia juga siap mengabaikan sanksi itu. (Imam Yuda
Saputra/JIBI/Solopos)

http://images.solopos.com/2014/10/rusuh.jpg">http://images.solopos.com/2014/10/rusuh.jpg" width="640" height="416" />