WISATA MAGELANG : Wow, Ratusan Pekerja Seni Bakal Meriahkan Festival Lima Gunung

JIBI/SOLOPOS/Agoes RudiantoSejumlah anak dari Metta Budaya mementaskan dolanan anak dalam acara Maleman Sriwedari di Plaza Sriwedari, Solo, Kamis (2 - 8) malam. Gelaran yang sempat vakum sekitar beberapa tahun akan diselenggarakan hingga 1 September mendatang dengan menampilkan berbagai atraksi kesenian.
07 Agustus 2015 15:50 WIB Redaksi Solopos Semarang Share :

Wisata Magelang disemarakkan dengan Festival Lima Gunung.

Kanalsemarang.com, MAGELANG-Intensitas seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, membangun interaksi sosial berdasarkan semangat persaudaraan, menjadi modal penting penyelenggaraan secara tahunan Festival Lima Gunung,

"Interaksi sosial yang mereka bangun selama ini, bukan hanya di antara mereka, tetapi juga dengan komunitas sekitar desa dan dusun masing-masing, dan berbagai kalangan di berbagai kota dan jejaringnya di luar negeri," kata pemerhati seni budaya Universitas Tidar Magelang Tri Setyo Nugroho di Magelang, Jumat (7/8/2015).

Tri yang juga pengajar mata kuliah drama pentas untuk Program Studi Bahasa dan Sastra Untidar Magelang, Jawa Tengah, mengatakan hal itu ketika berkomentar tentang penyelenggaraan Festival Lima Gunung XIV yang rencananya digelar Jumat-Senin (14-17/8/2015) di dua lokasi, yakni Gunung Andong (Dusun Mantran Wetan, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang) dan Gunung Merapi (Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang).

Panitia festival memperkirakan antara 800-1.000 orang bakal tampil mengisi berbagai agenda Festival Lima Gunung XIV yang telah mereka susun, antara lain berupa pementasan kesenian tradisional, kontemporer, dan kolaborasi, pentas musik, sarasehan budaya, kirab budaya, peluncuran buku, pidato kebudayaan, pameran seni rupa, dan peringatan HUT Ke-70 RI.

Ia menyebut festival tersebut sebagai perhelatan kesenian dan peristiwa kebudayaan yang luar biasa. Mereka secara konsisten menggelar ajang tahunan tersebut secara mandiri, tanpa melibatkan sponsor.

"Dengan didasarkan pada kemurnian berkesenian dan interaksi sosial, tanpa kepentingan berlebih selain kemegahan ekspresi emosional perkawanan dan persaudaraan yang artistik," katanya.

Tri yang akrab dengan sebutan Gepeng itu, juga mengemukakan bahwa festival tersebut menjadi ajang silturahim kalangan seniman petani di kawasan gunung-gunung di Magelang dan jejaring mereka selama ini.

Selain itu, katanya, menjadi sarana saling belajar dan mengapresiasi karya kreatif berkesenian di kalangan seniman dan pemerhati sosial budaya.

"Menjadi ajang silaturahim, belajar, apresiasi, dan pembuktian eksistensi kedahsyatan kesenian yang lahir dari masyarat petani itu sendiri. Bagi masyarakat sekitar, pelaku seni, dan seniman, ini menjadi referensi dan belajar juga, serta memengaruhi perkembangan gaya berkesenian bagi daerah lain," katanya.

Ia mengemukakan bentuk baru dan energi berkesenian, serta pengembangan kebudayaan yang unik lahir dari konsistensi mereka menggelar festival tahunan tersebut.

"Proses berinteraksi sosial yang menghadirkan energi kesenian yang tidak dapat ditemukan pada masyarakat maupun lingkungan lainnya, sedangkan kenaifan gagasan serta ketulusan berkarya justru telah membuktikan mereka mampu menghadirkan karya yang fenomenal dan dapat diterima berbagai lapisan, serta segmen masyarakat sebagai penikmat," katanya.

Ia mengemukakan tentang kelayakan berbagai kalangan masyarakat, terutama seniman dan pemerhati budaya, untuk menyaksikan festival tersebut.

"Secara visual festival tersebut indah, secara emosional festival ini membahagiakan, secara kultural festival ini dahsyat, secara manajemen festival ini cerdas," kata Gepeng yang juga pegiat kelompok penyair Magelang yang tergabung dalam Forum Kilometer Nol Borobudur Kabupaten Magelang itu.