BISNIS PROPERTI JATENG : Ini Alasan Apartemen Belum Digemari di Jateng

Apartemen Student Castle berdiri di kawasan Jl. Selokan Mataram, Caturtunggal, Depok, Sleman, Senin (11/1/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
23 Januari 2016 16:50 WIB Semarang Share :

Bisnis properti di Jateng, khususnya apartemen, masih belum semarak seperti di Jakarta dan Surabaya.
Semarangpos.com, SEMARANG - Persatuan perusahaan pengembang Indonesia, Real Estate Indonesia (REI), menilai bisnis properti, apartemen, di Jawa Tengah (Jateng) belum lah terlalu ramai seperti di kota lain, yakni Jakarta dan Surabaya. Kondisi ini tak lain karena lokasi apartemen yang berada di tengah perkotaan membuat harga tanah yang tersedia menjadi mahal.

“Apartemen selalu di tengah-tengah kota yang harga tanahnya sudah sangat mahal sehingga hanya bisa dibangun apartemen dan tidak bisa dibangun rumah tapak,” kata Wakil Ketua REI Jateng Bidang Promosi, Humas, dan Publikasi,  Dibya K Hidayat, di Semarang, Sabtu (23/1/2016).

Menurutnya, kebanyakan penjualan apartemen di sana untuk pekerja yang memilih hunian dekat dengan tempat kerja sehingga tidak terkena macet. “Kalau di Semarang kan macetnya juga belum begitu parah," jelasnya.

Sementara itu, mengenai segmentasi untuk tenaga kerja asing yang bekerja di Jawa Tengah, Dibya mengaku pesimistis mereka akan lebih memilih hunian apartemen sebagai tempat tinggal selama bekerja di Jateng.

"Menurut saya ketika dari negara asalnya mereka tinggal di apartemen, justru ketika di sini mereka akan lebih memilih untuk tinggal di rumah tapak. Mereka pasti merasa jenuh tinggal di hunian vertikal," ungkapnya.