INDUSTRI JATENG : Tenaga Kerja Pilih Garmen, Pengusaha Mebel Kelimpungan

JIBI/SOLOPOS/ Sunaryo Haryo BayuSERAGAM BATIK - Pekerja sedang melakukan proses produksi kain batik printing untuk seragam sekolah pesanan dari Sumatera dan Kalimantan, di sebuah pabrik di kawasan Tipes, Serengan, Solo, Senin (7/5 - 2012). Kain batik printing tersebut akan segera dibuat baju seragam dengan harga jual sekitar Rp 17.500,/ hingga Rp 22.500,/ per potong
27 Februari 2016 06:50 WIB Semarang Share :

Industri Jateng terutama mebel dan garmen terjadi persaingan dalam memperebutkan tenaga kerja.

Semarangpos.com, JEPARA - Pengusaha mebel dan ukir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, berupaya mencari tenaga kerja di tengah persaingan dengan pengusaha garmen yang juga sedang memburu para pekerja.

Pengusaha mebel asal Kecamatan Pecangaan, Jepara, Febti Estiningsih di Jepara, Jumat (26/2/2016), mengakui bahwa mencari tenaga kerja baru untuk dipekerjakan di permebelan mulai kesulitan karena para calon pekerja itu cenderung tertarik di industri garmen.

Tenaga yang dibutuhkan, kata dia, memang diprioritakan usia yang masih muda karena hendak dipekerjakan untuk bagian ampelas. Akan tetapi, kata dia, tenaga kerja usia muda ternyata saat ini banyak yang direkrut oleh industri garmen yang mulai bermunculan di Kabupaten Jepara.

Meskipun gaji yang ditawarkan juga tidak berbeda jauh dengan tawaran gaji ketika bekerja di pabrik garmen, kata dia, calon tenaga kerja usia muda lebih memilih bekerja di pabrik karena anggapan lebih bonafid dan lingkungan kerja yang cenderung bersih.

Gaji yang ditawarkan, kata dia, merupakan standar upah minimum kabupaten yakni Rp1,35 juta per bulan, kecuali calon pekerja tersebut memiliki keahlian khusus yang memang dibutuhkan, sehingga gaji yang ditawarkan juga lebih mahal.

Ia menjelaskan upayanya merekrut tenaga kerja muda, salah satunya dalam rangka untuk meningkatkan produktivitasnya.

Pekerja bagian ampelas yang ada saat ini, kata dia, sebagian besar merupakan ibu-ibu yang bekerja sejak 2000.

"Kalaupun bisa mendapatkan tenaga kerja usia muda, biasanya meminta honor yang mahal," ujarnya.

Ia mengakui upayanya mendapatkan tenaga kerja usia muda yang berkualitas dan produktif karena produk mebelnya untuk kalangan menengah atas. Untuk itu, kata dia, dalam merekrut pekerja selain berusia muda juga ada beberapa kriteria karena untuk menjaga kualitas produk yang dijual.

"Pekerja yang memiliki ketelitian dan bisa menyelesaikan pekerjaan secara detail, memang menjadi prioritas," ujarnya.

Apalagi, saat ini dirinya memiliki beberapa pelanggan dari luar negeri yang sering memesan produk mebel yang benar-benar berkualitas.

Sebetulnya, dirinya mendapatkan tawaran untuk membuat produk mebel dengan jumlah tertentu, namun menghadapi kesulitan menyangkut keterbatasan jumlah tenaga kerja, terutama yang baru.