KERAJINAN JATENG : Pasar Sepi, Ini Strategi Perajin Biola Kudus

01 Mei 2016 00:40 WIB Redaksi Solopos Semarang Share :

Kerajinan Jateng yakni biola di Kudus tengah sepi peminat.

Semarangpos.com, KUDUS – Pasaran biola saat ini tengah sepi. Kondisi ini pun membuat para perajin biola asal Kudus memutar otak guna mendapatkan strategi baru agar bertahan di tengah kesulitan.

Salah satu strategi yang dilakukan, yakni membuat biola dengan kualitas biasa (KW1). Seperti yang dilakukan Ngatmin, pemilik galeri MADANI warga RT 04/RW03, Desa Japan, Kecamatan Dawe.

Ngatmin mengaku menyiasati sepinya pasar biola dengan membuat biola KW1 dengan harga lebih murah. Meski demikian, ia tetap menjaga kualitas produknya agar laku di pasaran.

Pencipta biola bambu yang terinspirasi dengan seruling itu mampu mengatasi permasalahan utama, yakni pemasaran di masa sepi dengan membuat biola yang biasanya dari bambu dengan kayu yang lebih murah. Meski demikian, ia tidak mengabaikan kualitas dari produk buatannya itu.

“Ternyata mampu mendongkrak pasar dan banyak permintaan dari dalam negeri. Meski KW1 , kami tetap memberikan garansi, sehingga banyak dari pejabat negeri ini tetapminat membeli biola produksi kami,” kata Ngatmin seperti dilansir laman berita Okezone.com, Sabtu (30/4/2016).

Ngatmin menilai pemasaran biola memang butuh konsentrasi. Mengingat biola tidak sama dengan batik maupun produk khaslainnya. Sehingga selain apa yang dilakukannya agar tetap menembus pasar kreasi tetap dilakukannya seperti penambahan patung pada pucuk biola.

Produk biola yang sempat dikagumi Gubernur Jatim Sukarwo (Pak De Karwo) tersebut dengan versi KW1 bisa didapat dari harga Rp1 jutaan. Sehingga yang menjadi perhatiannya saat ini terus belajar tentang teknik pemasaran.

“Selain itu, kalau memang sepi betul. Kami bahkan melayani servis pada toko-toko biola di kota-kota besar di Indonesia. Dan yang sering datang dari toko-toko di Semarang. Biasanya cuma menyetel ulang sehingga nada biola sesuai standar,” tandasnya.