WISATA KUDUS : Museum Situs Patiayam Tak Kalah Spektakuler dari Sangiran...

Sejumlah pelajar SMP mengamati fosil kerang purba di Rumah Fosil Situs Patiayam, Terban, Kudus, Jateng, Kamis (10/10/2014). (JIBI/Solopos/Antara - Andreas Fitri Atmoko)
11 Mei 2016 13:50 WIB Insetyonoto Semarang Share :

Wisata Kudus dilengkapi objek wisata Museum Situs Patiayam yang menyimpan juga fosil manusia purba  homo erectus.

Semarangpos.com, SEMARANG – Situs Patiayam di Kabupaten Kudus diklaim memiliki persamaan dengan situs purbakala Sangiran di Kabupaten Sragen. Kandungan fosil di perbukitan Patiayam, wilayah Dukuh Kancilan, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu bahkan disebut-sebut lebih lengkap daripada Sangiran.

Situs Patiayam itu merupakan 2.902,2 ha lahan yang merupakan bagian dari Gunung Muria Kudus, wilayah Kabupaten Kudus dan beberapa kecamatan di Kabupaten Pati. Di situs itulah didirikan Rumah Fosil Situs Patiayam untuk menyimpan fosil yang ditemukan di wilayah setempat sekaligus menghimpun daya tarik wisata.

Rumah Fosil Situs Patiayam itu adalah buah karya Paguyuban Pelestari Situs Patiayam yang diresmikan keberadaannya oleh Dinas kebuadayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus pada tahun 2005. Setelah bertahun-tahun berkarya, pada 2014, paguyuban itu baru mendapatkan bangunan representatif untuk menyimpan dan memamerkan fosil temuan dari wilayah setempat.

Jaringan Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus (Jenank) dalam komunitasjenank.blogspot.co.id, mencatat, sejak 1 September 2014, bangunan yang lumayan representatif resmi mereka tempati. Memanfaatkan bangunan bekas polindes atau puskesmas Desa Terban, fosil-fosil temuan situs Patiayam bisa disimpan dan dipamerkan secara menakjubkan.

Salah Kaprah
Alhasil, kendati status rumah penyimpanan fosil temuan dari Situs Patiayam itu belum museum, tak sedikit warga—bahkan wartawan dan birokrat—yang secara salah kaprah menyebutnya sebagai museum. Salah kaprah itu bahkan kini berlanjut sehingga bangunan bekas polindes yang digunakan untuk menyimpan fosil itu kini kondang sebagai Museum Situs Patiayam.

Popularitas Museum Situs Patiayam itu kini bahkan menempatkannya sebagai salah satu objek wisata tujuan tetamu Kabupaten Kudus dan wilayah sekitarnya. Terlebih lagi, letak Museum Situs Patiayam itu terbilang mudah dijangkau, yakni dari pusat kota Kudus mengambil arah ke Pati atau Surabaya, setelah memasuki Kecamatan Jekulo terdapat papan penjunjuk arah situs Patiayam yang berada di tepi kiri jalan, kemudian masuk ke pertigaan sekitar 300 m dari jalan raya Kudus-Pati.

Museum Situs Patiayam dicatat pengelola lama resmi Pemprov Jateng, Jatengprov.go.id, memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan situs purbakala Sangiran, antara lain karena fosilnya yang utuh akibat penimbunya adalah abu vulkanik halus dan pembentukan fosil berlangsung baik. Di sekitar situ situ juga tidak terdapat sungai besar sehingga fosil ini tidak pindah lokasi karena erosi. Keadaan ini berbeda dengan situs purbakala lainnya di mana fosil ditemukan pada endapan sungai.

Situs Patiayam merupakan salah satu museum situs terlengkap, terbukti di temukannya fosil manusia purba (Homo erectus), fauna vertebrata, dan fauna invertabrata. Selain itu ada juga alat-alat bantu manusia dari hasil budaya manusia purba yang ditemukan, karena sebelumnya Patiayam adalah sebuah kubah (dome ) dengan ketingian 350 meter di atas permukaan laut.

Cagar Budaya
Berdasarkan catatan Jatengprov.go.id, sejak 22 September 2005, Situs Patiayam ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Sebelumnya, Situs Patiayam sudah lama dikenal sebagai salah satu situs manusia purba (hominid) di Indonesia. Sejumlah fosil binatang purba telah ditemukan penduduk setempat seperti kerbau, gajah, dan tulang lainnya.

Salah satu primadona museum Situs Patiayam adalah fosil gading gajah purba Stegodon trigonocephalus yang memiliki ukuran sangat besar. Pada 1931 peneliti asal Belanda Van Es yang melakukan penelitian di Situs Patiayam  menemukan sembilan jenis fosil hewan vertebrata dan sampai 2007 berbagai penelitian terus dilakukan.

Dari hasil penelitian ditemukan 17 spesies hewan vertebrata dan tulang belulang binatang purba antara lain Stegodon trigonochepalus (gajah purba), Elephas (sejenis gajah), Rhinocecos sondaicus (badak), Bos banteng (sejenis banteng), Crocodilus (buaya), Ceruus zwaani dan Cervus atau Ydekkeri martim (sejenis rusa), Corvidae (rusa), Chelonidae (kura-kura), Suidae (babi hutan), Tridacna (kerang laut), dan Hipopotamidae (kuda nil).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus terus berupaya menyelamatkan dan melesarikan situs Patiayam yang merupakan situs prasejarah ikon masa depan bekerja sama dengan Balai Arkeologi Jogya untuk penelitian dan ekskavasi.

 

http://www.semarangpos.com/">KLIK dan https://www.facebook.com/SemarangPos">LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya