Destinasi Wisata Sedikit, Okupansi Hotel Jateng Rendah

Ilustrasi hotel. (dok. Solopos)
05 April 2018 22:50 WIB Alif N.R./Bisnis Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Tengah (Jateng) mendesak pemerintah memperbaiki infrastruktur destinasi wisata di wilayahnya. Dengan semakin baiknya objek wisata, diharapkan akan menarik minat pengunjung atau wisatawan yang tentunya berimbas pada meningkatnya okupansi hotel di Jateng.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng menyebutkan bahwa tingkat okupansi hotel di Jateng masih rendah, yakni berkisar di angka 44,28%

Ketua PHRI Jateng, Heru Isnawan, mengatakan dukungan pemerintah sangat penting bagi perkembangan industri perhotelan. Dukungan pemerintah itu bisa ditunjukkan, salah satunya dengan memperbaiki infrastruktur destinasi wisata.

“Dengan infrastruktur yang semakin baik, tentu wisatawan menjadi betah berlama-lama di lokasi wisata dan ini akan berimbas terhadap tingkat hunian hotel,” ujar Heru kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI), Kamis (5/4/2018).

Heru menyebutkan sepanjang tahun ini hotel di Jateng banyak mengandalkan pemasukan dari kegiatan pertemuan maupun pameran atau MICE (meeting, incentive, convention, exhibition), yang digelar instansi-instansi pemerintah maupun swasta. Namun, pendapatan dari MICE itu akan menurun drastis saat memasuki bulan puasa atau Ramadan.

“MICE masih menjadi andalan kami saat ini. Kalau untuk hunian kamar masih rendah, tergantung ada event besar yang diadakan di beberapa tempat wisata unggulan seperti Dieng maupun Candi Borobudur,” jelas Heru.

Meski tingkat okupansi hotel di Jateng rendah, Heru menilai hal itu tidak menyurutkan pertumbuhan hotel di Jateng. Bahkan, saat ini jumlah hotel di Jateng mencapai 200 unit yang tersebar di 35 kabupaten dan kota.

Heru pun berharap pemerintah segera melakukan moratorium hotel di Jateng hingga industri perhotelan membaik. Hal itu dikarenakan hadirnya hotel baru membuat persaingan semakin kompetitif dan berpotensi membuat banyak hotel lama gulung tikar.

“Sudah sering saya sampaikan, sebaiknya perizinan hotel ditahan dulu sampai bisnisnya membaik. Jumlah hotel berbintang saat ini mencapai 200 lebih, belum lagi yang nonbintang, apartemen, homestay, dan kos harian,” keluh Heru.

Sementara itu, data yang dihimpun BPS menyebutkan tingkat okupansi hotel di Jateng selama Februari 2018 hanya berkisar di angka 44,28%. Jumlah itu mengalami penurunan dibanding tingkat okupansi pada Januari 2018 yang mencapai 44,85%.

Sementara itu, rata-rata lama menginap (RLM) atau lenght of stay (LOS) tamuhotel di Jateng selama Februari 2018 berada di angka 1,37 malam atau turun 0,06 poin dibanding bulan Januari, yakni 1,43 malam.