Hemat Biaya Operasional Phapros Adopsi Teknologi Green Chiller

05 Mei 2018 03:50 WIB Yustinus Andri DP Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — PT Phapros Tbk. mengadopsi sistem green chiller sebagai bagian komitmen perseroan itu dalam melakukan efisiensi konsumsi energi sekaligus menekan biaya operasional.

Direktur Utama Phapros Barokah Sri Utami mengatakan green chiller merupakan sistem pendingin berbasis hidrokarbon yang ramah lingkungan. Sistem tersebut dinilainya memiliki banyak manfaat, di antaranya menurunkan biaya operasionai karena menggunakan teknoiogi yang lebih efisien.

“Instalasi pendingin hidrokarbon ini juga dapat menghemat tagihan listrik Iebih dari 20% atau hampir Rp500 juta dari sistem pendingin yang saat ini digunakan,” ujar wanita yang akrab disapa Emmy ini, Jumat (4/5/2018).

Phapros dalam urusan ini menjadi pelaku industri pertama yang menggunakan sistem pendingin hidrokarbon tersebut di Indonesia. Menurut Emmy, langkah tersebut akan membuat strategi investasi perusahaan semakin terprediksi sesuai dengan kenaikan harga listrik.

Di sisi lain kebijakan tersebut juga akan meningkatkan citra perusahaan melalui implementasi teknologi terbarukan yang ramah lingkungan dan iklim. Dalam pelaksanaanya, Phapros menggandeng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Deutsche Geseuschaft fiJr Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH, PT Pertamina, Undip, Politeknik Bandung, Politeknik Bali dan The American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE).

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Muiyana mengapresiasi upaya Phapros tersebut. “Dengan penghematan ini, energi yang dikonsumsi Phapros selama ini, bisa dialihkan ke sektor usaha lain yang lebih membutuhkan. Dari PT PLN juga akan lebih efisien karena mereka tak perlu repot-repot membangun pembangkit baru,” kata Rida.

Adapun, teknologi green chiller tersebut diharapkan dapat menekan penggunaan energi karena memiliki konduktivitas panas yang 50% lebih efisien dibandingkan dengan refrigeran fluorocarbon. Teknologi tersebut juga akan beroperasi dengan tekanan kerja yang 20% lebih rendah dibandingkan dengan refrigeran fluorocarbon. Dengan demikian, tekonologi itu diharapakan dapat mengurangi konsumsi energi antara 17%-30% dibandingkan dengan penggunaan refrigeran fluorocarbon.

Sebagai perbandingan, daya input chiller lama adalah 151 kW dengan penggunaan listrik sebesar 545.387 kW/tahun dan biaya listrik per tahun mencapai lebih dari Rp 600 juta/tahun. Sementara itu, dengan green chiller untuk menghasilkan efek pendinginan yang sama hanya dibutuhkan 42 kW dengan penggunaan listrik 151.078 kWh/tahun dan biaya listrik sebesar Rp 160 juta/tahun.

Chiller hidrokarbon pertama mulai dipasang di pabrik Phapros pada akhir 2017, menyusui kemudian chiller kedua pada Januari 2018. Chiller tersebut digunakan untuk mendinginkan berbagai ruangan untuk produksi obat, penyimpanan dan pembiakan bakteri di gedung produksi PT. Phapros Tbk. di Semarang, Jawa Tengah.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Bisnis