Awas! 201 Simpatisan ISIS Tersebar di Jateng

Kapolda Jateng, Irjen Pol. Condro Kirono (kedua dari kiri), menyaksikan Kasdam IV Diponegoro, Brigjen TNI Bakti Agus Fadjari, menandatangani deklarasi antipaham radikal di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jumat (25/6 - 2018). (Solopos/Imam Yuda S.)
26 Mei 2018 12:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Sebanyak 201 warga Jawa Tengah (Jateng) terdeteksi telah menjadi bagian dalam struktur keanggotaan kelompok teroris, Islamic State in Irak and Syria (ISIS).

Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Jawa Tengah (Jateng), Irjen Pol. Condro Kirono, menyebut 201 orang yang masuk dalam daftar anggota ISIS itu sifatnya baru sebatas simpatisan.

“Bahkan pernah kami temukan di Sukoharjo, setelah teror bom di Surabaya, ada spanduk bertuliskan ‘Coming Soon ISIS’. Ditulis dengan cat dan saya rasa itu bukan tulisan yang baru saja dibuat [telah dipersiapkan lama],” ujar Condro saat Rakor Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkominda) Provinsi Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jumat (26/5/2018).

Dari data yang diperoleh Semarangpos.com, Sukoharjo memang menjadi basis simpatisan ISIS terbanyak kedua di Jateng. Simpatisan kelompok yang mengklaim kerap melakukan teror di berbagai negara, termasuk Indonesia itu paling banyak justru berada di wilayah Kendal dengan jumlah mencapai 50 orang.

Sementara, Solo berada di urutan ketiga sebagai daerah di Jateng yang paling banyak menampung simpatisan ISIS dengan jumlah mencapai 23 orang. Disusul Temanggung dengan 12 orang dan Semarang dengan jumlah sekitar delapan orang.

“Ini yang harus kita waspadai. Caranya dengan apa? Yakni dengan melakukan pendekatan di wilayah yang terdeteksi paling banyak terorisnya. Pendekatan bisa dilakukan dengan pembinaan atau melakukan berbagai kegiatan di wilayah tersebut,” beber Condro.

Selain simpatisan ISIS, Jateng juga banyak menghasilkan pelaku teror. Tercatat ada 334 teroris yang berasal dari Jateng, di mana 46 orang di antaranya masih dalam daftar pencarian, 125 orang telah tertangkap dan menjalani hukuman, dan 128 orang lagi berstatus mantan napi.

“Sementara 35 pelaku atau teroris telah meninggal dunia saat menjalankan aksinya. Saya minta kepada kepala daerah lakukan pendekatan kepada para janda teroris agar tidak lagi menjalani hidup secara eksklusif [tertutup] hingga kembali bergabung dengan kelompoknya,” tutur Condro.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya