Begini Cara Kelompok Radikal Masuk ke Sekolah Negeri di Jateng

Suasana Rakor Forkominda Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jumat (25/5/2018). (Istimewa - Humas Pemprov Jateng)
27 Mei 2018 10:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG – Paham radikal rupanya sudah mulai merasuk ke para siswa sekolah menengah atas (SMA) berstatus negeri di Jawa Tengah (Jateng). Paham kelompok teroris itu dibawa masuk oleh para penceramah yang diundang ke sekolah untuk mengisi acara pengajian.

Masuknya paham kelompok teroris ke sekolah itu diungkapkan Kepala Badan Intelejen Daerah (Kabinda) Jateng, Brigjen TNI Agus Joesmin, dalam Rakor Forkominda Provinsi Jateng di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Jumat (26/5/2018).

“Di SMA-SMA negeri banyak guru yang bukan dari mata pelajaran agama justru yang memiliki wewenang mengundang penceramah dari luar sekolah. Padahal penceramah yang mereka undang memiliki paham radikal,” ujar Agus Joesmin.

Agus menambahkan bukan hanya berwenang mengundang penceramah dari luar sekolah, para guru non-pendidikan agama itu juga kerap turut campur dalam organisasi kerohanian Islam di sekolah atau Rohis. Alhasil, banyak siswa yang sebelumnya memiliki dasar pendiddikan agama Islam yang kuat mulai terjangkit virus radikal.

“Ini yang perlu kita waspadai. Maka itu, kami mulai melakukan pengawasan yang ketat di lingkungan sekolah,” ujar Agus Joesmin.

Pengawasan terhadap radikalisme tak hanya dilakukan di lingkungan sekolah. Agus Joesmin mengaku pengawasan untuk membendung bahaya terorisme juga dilakukan kepada mantan napi teroris (napiter) maupun keluarga para napiter.

“Kami optimalkan pengawasan terhadap eks napiter, pembesuk napiter, deportan dan simpatisan ISIS,” terang Agus Joesmin.

Terpisah, Plt. Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko, membenarkan jika ada beberapa sekolah negeri yang terjangkit virus paham radikal dari kelompok teroris. Meski demikian, mantan Bupati Purbalingga itu enggan menyebutkan jumlah serta sekolah mana saja yang sudah disusupi kelompok radikal.

“Kami sudah mengidentifikasi sekolah-sekolah yang berpaham radikal itu. Bahkan, sempat gurunya kami berikan pengarahan khusus. Saat ini penangan terus kami lakukan, namun secara soft. Sebenarnya tidak hanya SMA, kampus-kampus juga banyak yang disusupi paham radikal,” ujar Heru.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya