BPOM Ungkap Pengedar Obat Ilegal Bernilai Rp3,5 Miliar

Ilustrasi obat/obatan. (boldsky.com)
31 Mei 2018 16:50 WIB Yustinus Andri DP Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) berhasil mengungkap sekaligus menyita obat ilegal yang diedarkan secara online dengan nilai keekonomian hingga Rp3,5 miliar di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito mengatakan temuan tersebut berawal dari informasi Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Pekanbaru yang menyebutkan adanya penjualan obat ilegal berupa persediaan injeksi secara online yang berasal dari Kota Semarang. Informasi itu pun lalu dikembangkan menjadi penyelidikan bersama secara lintas instansi di ibukota Jawa Tengah tersebut.

Dari hasil penelusuran, sebuah gudang berkedok agen jasa pengiriman ekspedisi yang berlokasi di Jl. Arteri Soekarno-Hatta, Kota Semarang disinyalir menjadi sumber peredaran obat ilegal yang dijual secara online tersebut. Hasil penelusuran tersebut membuahkan hasil setelah menggerebek lokasi tersebut, Senin (28/5/2018)

“Dugaan sementara, praktik distribusi ilegal ini dilakukan dengan modus menjual obat ilegal melalui e-commerce dan media sosial serta didistribusikan melalui jasa pengiriman ke seluruh Indonesia,” ujar Penny saat melakukan peninjauan di gudang obat ilegal tersebut, Kamis (31/5/2018).

Proses penyelidikan dan pengungkapan kasus tersebut dilakukan oleh BPOM dengan menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) Jateng, Polda Jateng, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jateng. Penny menambahkan pelaku tersebut menjalankan usaha obat ilegal dengan memanfaatkan gudang tersebut sebagai tempat penyimpanan, pengemasan, dan pengiriman barang.

Dari TKP ditemukan barang bukti kejahatan berbagai jenis obat ilegal yang banyak ditemukan di peredaran, antara lain berupa injeksi vitamin C, kolagen, gluthathion, tretinoin, obat-obat pelangsing, sibutramine HCl, serta produk-produk skincare dengan total sejumlah 146 item (127.900 pieces). Selain itu, petugas juga menyita tujuh unit handphone dan lima unit personal computer yang digunakan untuk transaksi dan administrasi penjualan serta dokumen dan catatan penjualan.

BPOM telah menyita seluruh produk obat ilegal beserta dokumen dan catatan penjualan tersebut. Berdasarkan pemeriksaan sementara terhadap saksi-saksi, PPNS BPOM telah menetapkan satu orang tersangka berinisial UA.

“Berdasarkan dokumen yang ditemukan dan keterangan tersangka, usaha dijalankan sejak tahun 2015 dengan omzet Rp400 miliar-Rp500 juta per bulan. Temuan ini akan ditindaklanjuti BPOM melalui proses projustitia guna mengungkap aktor intelektual”, ujar Kepala BPOM RI.

Pelaku diduga melanggar Pasal 196 dan 197 UU No. 36/2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1.5 miliar. Terkait maraknya peredaran obat ilegal, Kepala BPOM RI kembali meminta kepada seluruh pelaku usaha untuk mematuhi segala peraturan perundang-undangan yang berlaku. 

Dia juga meminta agar masyarakat lebih berhati-hati dalam memilih obat yang akan dikonsumsi. Masyarakat diharakan tidak membeli atau memilih produk obat yang tidak memiliki izin edar. “Ingat selalu cek KLIK, cek kemasan, cek label, cek izin edar, dan cek kedaluwarsa sebelum membeli atau memilih produk obat”, katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Semarangpos.com, SEMARANG —

Sumber : Bisnis