Kisah Penjual Gilo-Gilo dan Asal Nama yang Unik

Penjual Gilo/Gilo melayani pembeli di kawasan Kota Lama, Semarang, beberapa waktu lalu. (Istimewa/Gunung Mahesa)
20 September 2018 06:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Bagi warga Kota Semarang dan sekitarnya, Gilo-Gilo bukanlah sesuatu yang asing. Gilo-Gilo bagi warga Kota Semarang bukanlah sebutan untuk mendeskripsikan sesuatu yang memalukan maupun menjijikan seperti halnya orang gila.

Gilo-Gilo di Semarang justru kerap diburu dan dicari oleh warga. Gilo-Gilo ini tak lain merupakan nama yang disematkan bagi penjual makanan maupun kuliner serba ada di Kota Semarang.

Penjual Gilo-Gilo bisa ditemui di berbagai sudut Kota Semarang. Biasanya, para penjual Gilo-Gilo ini menjajakan dagangannya dengan membawa gerobak yang didorong di pusat keramaian, seperti pasar, taman, hingga kawasan perkantoran.

Sama seperti pedagang Angkringan atau Hik yang jamak ditemui di Yogyakarta dan wilayah Soloraya, pedagang Gilo-Gilo juga menyajikan beraneka makanan dan kuliner. Pelanggan bisa menemukan berbagai jenis makanan dari penjual Gilo-Gilo, mulai dari nasi bungkus, sate kikil, gorengan, hingga buah-buahan.

Seorang budayawan Kota Semarang, Gunung Mahesa, menyebutkan penjual Gilo-Gilo sudah ada di Semarang sejak lama. Para penjual Gilo-Gilo yang mayoritas berasal dari Klaten itu datang ke Semarang sekitar tahun 1930-an atau pada masa penjajahan.

“Dulu mereka berjualan tidak dengan gerobak yang didorong, melainkan dengan cara dipikul. Pada tahun 1970-an, mereka mulai berkembang. Banyak jalan yang sudah diaspal, mereka pun beralih dari gerobak pikul ke gerobak dorong agar lebih efisien dalam memasarkan dagangannya,” ujar Gunung saat berbincang dengan Semarangpos.com di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), beberapa waktu lalu.

Gunung menjelaskan ada beberapa versi asal mula para penjual makanan serba ada itu dijuluki Gilo-Gilo. Nama Gilo-Gilo disematkan karena mereka menyajikan aneka makanan yang sesuai dengan kebutuhan pembelinya.

“Ada yang bilang Gilo-Gilo itu berasal dari kependekan kata gi lo ana [ini lo ada]. Kata-kata itu disematkan tak lain karena lengkapnya makanan yang dijajakan penjualnya. Mulai dari sate babi, hingga didih [saren],” ujar Gunung.

Meski demikian, Gunung mengaku saat ini sulit ditemukan penjual Gilo-Gilo yang menjajakan saren atau sate babi. Kultur masyarakat Semarang yang identik dengan budaya Islam membuat para penjual Gilo-Gilo tak mau lagi menjual sate babi maupun saren yang haram bagi kaum muslim.

“Penjual Gilo-Gilo itu kan sering keluar masuk kampung. Nah, di kampung-kampung kan banyak masyarakat yang memegang teguh budaya Islam, sehingga mereka [penjual Gilo-Gilo] mau tak mau harus menyesuaikan,” terang pria berambut gondrong tersebut.

Sementara itu versi lain dari nama Gilo-Gilo, lanjut Gunung, tak terlepas dari perilaku para penjualnya. Konon saat masih menjajakan dagangan dengan cara dipikul, para penjual Gilo-Gilo kerap menggeleng-gelengkan kepala.

“Dari situlah masyarakat akhirnya menyebut mereka Gilo-Gilo, karena saat membawa dagangannya dengan cara dipikul sering mengeleng-gelengkan kepala atau gela-gelo,” terang Gunung.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya