Laman Internet Pemkot Magelang Raih Penghargaan

Penghargaan Prasidatama kategori laman Internet terbaik se-Jateng diberikan saat acara malam penganugerahan Balai Bahasa Jateng di Hotel Pandanaran, Semarang, Kamis (25/10 - 2018). (Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
27 Oktober 2018 04:50 WIB Imam Yuda Saputra Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Laman Internet resmi Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang mendapat apresiasi Balai Bahasa Jawa Tengah (Jateng) sebagai laman informasi milik pemerintah kabupaten/kota yang menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Penghargaan itu diberikan Balai Bahasa Jateng kepada Pemkot Magelang dalam acara Penganugerahan Penghargaan Prasidatama di Hotel Pandanaran, Kota Semarang, Kamis (25/10/2018). 

Ada enam kategori yang diberikan Balai Bahasa Jateng pada tahun ini. Selain laman Internet milik pemerintah kabupaten/kota, penghargaan juga diberikan untuk kategori media cetak, penulis novel, cerpen, puisi, dan lingkungan pendidikan.

"Penghargaan ini diberikan untuk memotivasi penggiat sastra supaya terus berkarya dan menciptakan karya-karya yang penting bagi kehidupan masyarakat," ujar Kepala Balai Bahasa Jateng, Tirto Suwono, dalam sambutannya.

Ada tiga laman Internet resmi pemerintah kabupaten/kota yang masuk nomine sebagai yang terbaik. Selain milik Pemkot Semarang, nomine juga diberikan kepada laman milik Pemkot Semarang dan Pemkot Solo.

Namun dari ketiga pemerintahan itu, laman milik Pemkot Magelang dianggap sebagai yang terbaik karena menerapkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sementara posisi kedua diberikan kepada laman Internet resmi Pemkot Semarang dan ketiga kepada Pemkot Solo.

"Ada beberapa kriteria yang kami berikan dalam penilaian. Selain penggunaan bahasa yang baik, kami juga menilai dari karya aslinya. Artinya, artikel yang dimuat di laman milik pemerintah tidak mengambil dari sumber media lain," beber salah seorang juri, Aulia Muhammad.

Sementara itu, untuk kategori Penggunaan Bahasa di Lingkungan Sekolah, pihak panitia tak memberikan penghargaan. Hal ini dikarenakan jumlah peserta tidak memenuhi target.

"Target kami sebenarnya satu kabupaten/kota mengirimkan satu wakil. Tapi, hingga penilaian hanya ada 10 sekolah dari 10 daerah yang mengirimkan materi perlombaan. Makanya, penghargaan untuk sekolah kami tiadakan," beber juri lainnya, Agus Sudono.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya