Kerajinan ATBM Batang Gagal Regenerasi

Bupati Batang Wihaji sedang melihat proses produksi kerajinan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Jateng. (Bisnis/Kutnadi)
14 November 2018 02:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, BATANG — Kerajinan kain yang dibikin dengan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Jawa Tengah kesulitan regenerasi pekerja. Padahal, produk kain ATBM itu telah mampu menembus pasar luar Pulau Jawa, seperti Bali dan Sulawesi.

Pengrajin ATBM di Batang, Jateng, Kamis (8/11/2018), mengatakan bahwa produk yang dihasilkan oleh perajin ATBM ini antara lain berupa sal, selendang, dan kerudung. "Para perajin ATBM ini mampu memproduksi 2.000 potong [kain] ATBM per minggu. Adapun pemasarannya, selain untuk memenuhi permintaan pasar di Pulau Jawa juga dipasarkan ke Bali dan Sulawesi," ungkap Aidin, 40, salah seorang perajin kain yang dibikin dengan ATBM.

Kendati demikian, kata dia, prospek usaha yang bisa dikatakan cukup menjanjikan itu kurang diminati oleh masyarakat, terutama usia remaja, karena mereka memilih bekerja di Jakarta maupun pada perusahaan swasta. "Kendala yang kami hadapi dalam usaha ATBM ini bukan faktor bahan baku, namun tenaga kerja. Usaha ATBM ini tidak bergantung pada bahan impor sehingga cukup menjanjikan," katanya.

Menurut dia, harga kerajinan ATBM relatif cukup terjangkau dibeli oleh masyarakat sebagai bingkisan atau oleh-oleh. "Kita mematok harga [kain] kerajinan ATBM hanya Rp15.000 sampai Rp30.000 tergantung jenisnya. Adapun omzet yang kami peroleh mampu mencapai Rp50 juta/bulan," katanya.

Bupati Batang Wihaji mengatakan wilayah Desa Cepagan, Kecamatan Warungasem merupakan sentral indutri kreatif alat tenun bukan mesin yang dilakukan secara tradisional dan sudah berlangsung puluhan tahun. "Di wilayah desa ini, hampir semua masyarakatnya memproduksi sal, pasmina, dan kerudung. Oleh karena, kami menobatkan desa ini sebagai Kampung ATBM," kata Wihaji saat mengunjungi sentra produksi ATBM di Desa Cepagan itu.

Ia mengapresiasi pada warga setempat yang tetap berkarya memproduksi ATBM di tengah persaingan bisnis yang ketat dengan menggunakan alat teknologi. "Ini ekonomi kreatif yang luar biasa, dalam produksinya dilakukan secara tradisional dan tetap bertahan di tengah modernisasi peralatan, Oleh karena, kami mengapresiasi masyarakat yang telah nguri-nguri [melestarikan] peninggalan nenek moyang," katanya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara