Di Semarang, Anak Berkebutuhan Khusus Diajari Bikin Ecobricks dari Sampah Plastik

Anak-anak berkebutuhan khusus berlatih pembuatan ecobricks, batu bata ramah lingkungan dari limbah sampah plastik di Roemah Difabel Semarang, Senin (12/11 - 2018). (Antara/Cakrawala)
15 November 2018 05:50 WIB Newswire Semarang Share :

Semarangpos.com, SEMARANG — Puluhan anak berkebutuhan khusus dari Roemah Difabel Semarang dilatih mengolah sampah plastik menjadi ecobricks atau batu bata ramah lingkungan.

Pelatihan yang berlangsung di Roemah Difabel Semarang, Senin (12/11/2018) itu, dilakukan kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang menggandeng Komunitas Bank Sampah Lestari Magenta.

Sekitar 25 anak difabel terlihat antusias mengikuti pelatihan bertajuk "Kreatif Bersama Herborist" dengan didampingi oleh para mahasiswa dan pegiat bank sampah untuk membuat ecobricks. Mereka melakukan proses pembuatan ecobricks dengan memasukkan sampah-sampah plastik ke dalam botol bekas air minum dalam kemasan kemudian menempelkan dan memadatkannya.

Koordinator Bank Sampah Lestari Magenta Gusty Satrio menjelaskan ecobricks merupakan salah satu solusi mengatasi permasalahan sampah, khususnya sampah plastik. "Selama ini, sampah plastik kan paling riskan pengelolaannya karena susah diurai. Makanya, sangat berbahaya bagi lingkungan, salah satu solusinya dengan menjadikannya ecobricks," katanya.

Ecobricks, kata dia, bisa dijadikan berbagai macam perabot, seperti kursi, meja, dan sebagainya sehingga lebih bermanfaat ketimbang sampah plastik dibiarkan mencemari lingkungan. Untuk pelatihan kali itu, Gusty mengaku menggunakan sampah yang berasal dari produk Herborist yang diajarkannya kepada anak-anak berkebutuhan khusus di Roemah Difabel.

"Baru kali ini saya melatih temen-temen difabel, biasanya anak-anak pelajar dan masyarakat. Siapapun berhak mendapatkan pelatihan dan pendidikan tentang lingkungan," katanya.

Sementara itu, Nadya Rahma Aulia, koordinator dari mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP Undip Semarang menjelaskan sebenarnya kegiatan itu merupakan tugas mata kuliah Kampanye Public Relations. Bersama enam kawan sekampusnya, mahasiswi berhijab angkatan 2016 itu bersama-sama membentuk semacam agensi bernama Cakrawala sebagaimana ditugaskan kampus untuk menggelar kegiatan tersebut.

"Pesertanya disepakati dari kelompok rentan, tetapi kami sempat bingung. Awalnya, ada usulan ibu-ibu yang ada di lembaga pemasyarakatan, ibu rumah tangga, atau penyandang difabel," katanya.

Akhirnya, kata Program Planner Cakrawala itu, dipilihlah peserta dari kalangan difabel, sekaligus menggandeng herborist yang selama ini dikenal sebagai produsen berbagai produk kecantikan. "Kami ingin memberdayakan teman-teman penyandang difabel untuk mengolah sampah jadi ecobricks. Siapapun bisa berkontribusi terhadap lingkungan, apalagi ecobricks juga bernilai jual," pungkas Nadya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Sumber : Antara