Kompetisi Internal Penting untuk Persis Solo

Sri Widadi (Solopos/Ivan Andimuhtarom)
10 Januari 2019 19:25 WIB Ivan Andimuhtarom Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO - Bibit unggul pesepak bola bisa diharapkan muncul melalui kompetisi internal yang diselenggarakan Perserikatan Sepak Bola, termasuk oleh Persis Solo. Namun, kompetisi internal yang seharusnya bisa diikuti 26 tim tersebut untuk beberapa waktu terakhir tak berlangsung di Kota Bengawan.

Hal itu membuat sebagian kalangan merasa kecewa. Kompetisi yang seharusnya menjadi ajang unjuk gigi dan melihat potensi pemain muda itu hilang dari peredaran. Padahal, talenta muda sangat mungkin muncul dari kompetisi internal tersebut. Hal itu bisa menjadi solusi atas permasalahan pemain yang diperlukan oleh Persis Solo dalam mengarungi Liga Indonesia.

Prestasi Persis Solo yang termasuk salah satu tim tertua di Indonesia memang belum memenuhi ekspektasi suporter dan masyarakat. Sejak beberapa tahun terakhir, Persis Solo hanya mampu berlaga di kompetisi kasta kedua, yaitu Liga 2 Indonesia. Perubahan manajemen, pelatih, hingga pemain tak membuat Persis Solo beranjak lolos atau promosi ke Liga 1 Indonesia.

Mantan Asisten Pelatih Persis Solo, Sri Widadi, mengatakan kompetisi internal Persis harus segera dilakukan. Menurutnya, para pemain potensial bisa ditarik menjadi pemain senior di tim utama untuk berlaga di Liga 2 Indonesia. Sementara, pemain potensial lainnya bisa digabung menjadi satu tim B untuk berlaga di Liga 3 Indonesia yang dihuni klub-klub amatir.

“Pemain yang bagus di Liga 3, bisa dipromosikan ke tim utama,” kata dia saat ditemui Solopos.com, di Stadion Sriwedari, Kamis (10/1/2019).

Mantan pemain sayap Arseto Solo tersebut mengatakan dengan adanya kompetisi internal dan dua tim yang berlaga di dua kasta berbeda, atmosfer pembinaan bisa terjaga. Dampaknya, tak ada lagi istilah Persis Solo kekurangan pemain.

Sri Widadi mengatakan tidak adanya kompetisi internal sebenarnya membuang peluang emas mendapatkan bibit unggul dari wilayah sekitar. Padahal, pemain lokal dinilai memiliki kualitas tak kalah bagus dan mampu menjadi magnet bagi masyarakat untuk memberikan dukungan penuh pada tim kesayangan.

Lelaki yang akrab disapa Dadit itu secara tegas menyatakan dirinya condong menggunakan pemain lokal. Klub seharusnya juga tidak mencari pemain secara instan atau mengandalkan pemain asing maupun naturalisasi.

“Kalau main bola, tapi tidak ada pendukungnya, pemain itu juga semangatnya kurang. PT. Persis Solo Saestu juga harus memikirkan itu,” terang pelatih berlisensi B tersebut.