Keluarga Cemara Tembus 1 Juta Penonton

Film Keluarga Cemara. (Istimewa)
15 Januari 2019 21:10 WIB Rayful Mudassir Dunia Share :

Solopos.com, JAKARTA - Film Keluarga Cemara akhirnya tembus 1 juta penonton sejak rilis pada 3 Januari 2019. Pencapaian ini menempatkan film tersebut sebagai film pertama di Indonesia yang menembus 1 juta penonton pada 2019.

Berdasarkan laman filmindonesia.or.id, Keluarga Cemara menempati posisi pertama dari daftar film dengan penonton terbanyak mencapai 1.035.643. Perolehan ini ditanggapi positif oleh tim produksi film tersebut.

Akun resmi film tersebut di Instagram @filmkeluargacemara menyampaikan rasa syukur atas perolehan tersebut. Mereka turut berterima kasih atas dukungan dan respon positif dari penonton di Indonesia.

“Film Keluarga Cemara menjadi film pertama Indonesia yang mendapat 1.000.000 penonton di tahun 2019 ini loh. Terima kasih untuk keluarga Indonesia atas antusiasmenya kepada Keluarga Cemara,” tulis akun tersebut, Selasa (15/1/2019).

Film yang disutradarai oleh Yandy Laurens ini turut mengalahkan perolehan penonton sejumlah film layar lebar lainnya. Sebut saja DreadOut yang memperoleh 730.003 penonton menempati posisi kedua diikuti film Perjanjian dengan Iblis di posisi ketiga yang baru ditonton oleh 108.984 pasang mata.

Salah seorang pemain film  Keluarga Cemara Nirina Zubir mengucapkan terima kasih kepada seluruh penonton Indonesia. Ucapan yang sama juga disampaikan atas kepercayaan dan kesempatan yang telah diberikan untuknya.

Senada, Agus Ringgo turut mengatakan hal sama dan mengapresiasi seluruh penonton yang telah memberi tempat baik untuk film ini.

“Terima kasih semua yag sudah memungkinkan terjadinya angka ini, terima kasih sudah mengapresiasi semuanya,” kata akun @ringgoagus itu.

Keluarga Cemara merupakan film adaptasi dari serial dengan judul sama karya Arswendo Atmowiloto. Film ini mengisahkan tentang satu keluarga yang sedang terlilit hutang sehingga harus pindah ke daerah terpencil di Jawa Barat.

Abah (Agus Ringgo) dan Emak (Nirina Zubir) bersama anak-anak mereka terancam harus tinggal selamanya karena kasus mereka kalah di pengadilan. Keluarga ini harus melewati berbagai tantangan untuk meneguhkan prinsip: harta yang paling berharga adalah keluarga.