Ajax Ujian Kemapanan Real Madrid

Frenkie De Jong (Instagram - frenkiedejong)
13 Februari 2019 09:00 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, MADRID--Real Madrid menjadi representasi tim mapan di Liga Champions selama lima tahun terakhir. Los Blancos, julukan Madrid, tak sekadar selalu lolos ke fase knock-out. Lebih dari itu, Sergio Ramos dkk. mengangkat trofi juara sebanyak empat kali sejak 2014.

Namun kemapanan Madrid di turnamen paling glamor di Eropa ini akan mendapat ujian dari Ajax Amsterdam yang dihuni talenta-talenta muda pada leg pertama babak 16 besar di Johan Cruyff Arena, Amsterdam, Kamis (14/2/2019) dini hari WIB.

Tim berjuluk De Godenzonen (Anak-Anak Tuhan) bangun dari tidur panjangan mereka di pentas Eropa pada musim ini. Hebatnya, tim yang mengoleksi empat Si Kuping Lebar, julukan trofi Piala/Liga Champions, ini bangkit dengan para pemain muda.

Rata-rata usia skuat Ajax di Liga Champions berusia ini yakni 22,3 tahun. Kapten Ajax, Matthijs de Ligt, baru berusia 19 tahun. Mereka juga memiliki gelandang bertalenta yang sudah menekan kontrak dengan Barcelona untuk musim depan, Frenkie de Jong, dengan usia 21 tahun. De Ligt dan De Jong hanyalah bagian kecil dari daftar pemain muda Ajax. Selain mereka, antara lain masih ada Donny van de Breek (21 tahun), Andre Onana (22 tahun), dan Kasper Dolberg (21 tahun).

Sebenarnya, munculnta talenta-talenda muda di Ajax bukan barang baru. De Godenzonen memang kerap dikenal sebagai "pabrik" penghasil talenta-telanta muda sejak era Johan Cruyff. Namun, para pemain muda ini cukup istimewa karena mereka berhasil membawa Ajax bangkit ke permukaan dan kembali lolos ke babak 16 besar Liga Champions untuk kali pertama sejak 2005/2006.

Mantan Manajer Ajax, Louis van Gaal, bahkan dengan berani melabeli skuat muda Ajax saat ini sama bagusnya dengan skuat muda Ajax saat mengangkat trofi Liga Champions 1994/1995. Saat itu, De Godenzonen diperkuat para pemain bintang muda, semacam Frank Rijkaard, Edgar Davids, Marc Overmars, Edwin van der Sar, De Boer bersaudara, hingga Clarence Seedorf.

"Skuat Ajax saat ini hampir sebagus skuat Ajax '95, saya masih yakin. Saya masih terus percaya Ajac bisa menjuarai Liga Champions kembali, meski ini masih terlalu dini," jelas Van Gaal yang juga pelatih Ajax pada 1995 tersebut, seperti dilansir marca.com, Selasa (12/2/2019).

Sementara Madrid dihuni para pemain bintang yang sarat pengalaman plus bergemilang trofi. Skuat Madrid saat ini tidak jauh berbeda ketika mereka mengangkat trofi La Decima (ke-10) pada 2014, Undecima (ke-11) pada 2016, Duodecima (ke-12) pada 2017, dan Decimotercero (ke-13) pada 2018. Perbedaan mencoloknya, El Real tak lagi diperkuat Cristiano Ronaldo yang hijrah ke Juventus.

Meski begitu, sejak ditangani Santiago Solari, Los Blancos memberi kesempatan pada beberapa telanta muda ke skuat inti. Di antaranya winger Vinicius Junior yang masih berusia 18 tahun dan bek kiri Sergio Reguilon yang genap berusia 22 tahun pada 16 Desember lalu. Menariknya, pemain-pemain muda El Real ini yang membuat performa Madrid kembali stabil setelah sempat mengalami turbelensi beberapa kali musim ini. Vinicius mulai menjadi andalan di sayap kiri, posisi yang pernah menjadi kekuasaan Ronaldo. Sedangkan Reguilon menjadi pilihan utama di pertahanan kiri yang semula tak tersentuh karena dikuasai Marcelo. Vinicius dan Reguilon pun membuat skuat Madrid memiliki kemiripan dengan Ajax pada bentrok pada babak 16 besar nanti, yakni sama-sama mengandalkan talenta muda.

"Dia [Vinicius] sangat muda dan baru tiba di Eropa. Dia sangat antusias untuk belajar banyak hal dan kami memberi kesempatan agar dia stabil," jelas Solari tentang penyerang asal Brasil itu, seperti dikutip wordsoccertalk.com.

Madrid membawa modal impresif menjelang lawatan ke Johan Cruyff Arena. Los Blancos menyapu lima laga di Liga Primera dengan kemenangan, termasuk kemenangan telak 3-1 pada El Derby Madrileno di kandang Atletico Madrid. Sebelum membungkam tetangga mereka di El Derbi Madrileno, Los Blancos menahan imbang 1-1 musuh abadi mereka, Barcelona, pada leg pertama semifinal Copa del Rey di Camp Nou.

Sementara itu, Ajax justru terselip pada duel terakhir sebelum bentrok melawan Madrid di Johan Cruyff Arena. Matthijs de Ligt dkk. takluk 0-1 di markas tim medioker, Heracles, akhir pekan lalu. Kekalahan itu memaksa jarak Ajax dengan pemuncak klasemen sementara Eredivisie, PSV Eindhoven, melebar menjadi enam poin. "Bagi Ajax, kekalahan dari Heracles sebuah skandal," jelas De Ligt, seperti dikutip Reuters.