Liga Champions: Pembalasan Sempurna Di Maria

Angel Di Maria dilempar botol saat melakukan selebarasi ketika Paris Saint Germain mengalahkan Manchester United pada laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Old Trafford, Manchester, Rabu (13/2/2019) dini hari WIB. (Reuters - Phil Noble)
14 Februari 2019 09:15 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, MANCHESTER--"Mereka membiarkanku tidak memiliki waktu terbaik di sini." Begitu petikan wawancara Angel Di Maria ketika masih menjalani karier bersama Manchester United di Old Trafford.

Di Maria merupakan pemain flop di mata fans United. Winger asal Argentina itu dibeli United dari Real Madrid dengan harga 59,7 juta poundsterling pada 2014. Hanya setahun berkostum Setan Merah, Di Maria dianggap gagal dan akhirnya dia dijual ke Paris Saint Germain (PSG) pada musim panas 2015. Padahal, penampilannya sebenarnya tidak terlalu buruk. Dia menyokong empat gol dan 12 assist dalam 32 laga untuk Manchester Merah.

Di Maria pun mengalami perasaan berkecamuk ketika kembali menginjakkan kaki di Old Trafford saat PSG bertemu United pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions, Rabu (13/2/2019) dini hari WIB. Dia mendapat sambutan tidak ramah dari fans Setan Merah. Di Maria menjadi sasaran boo sejak menginjakkan kaki di lapangan. Ia bahkan menjadi sasaran pelemparan botol dari pendukung tuan rumah.

Tapi Di Maria membuktikan dirinya bukan pemain bermental lemah. Dia menjadi otak atas dua gol PSG di Old Trafford yang masing-masing dicetak Presnel Kimpembe dan Kylia Mbappe. Di Maria mengirim bola lewat tendangan sepak pojok yang diteruskan Kimpembe untuk merobek jala gawang David de Gea pada menit ke-53. Winger berusia 30 tahun ini ikut merayakan gol Kimpembe dengan meluap-luap.

Rekan setimnya, Thiago Silva, mulai cemas jika terjadi insiden di luar kendali sehingga ia mengajak Di Maria menyingkir dari perhatian suporter United. Namun, Di Maria enggan beranjak dari posisinya. Sumpah serapah pun keluar dari mulut pemain berjuluk Fideo tersebut untuk para pendukung Setan Merah. "F**k off! Puta! [b***h dalam bahasa Spanyol]. F**k off!," teriaknya dengan lantang.

Reaksi Di Maria mungkin terlalu berlebihan. Namun, baginya, inilah kesempatan emas untuk membalaskan dendam ke orang-orang yang pernah mencemoohnya. Situasi sontak memanas. Di salah satu tribune Old Trafford yang juga berdiri pelatih legendaris United, Sir Alex Ferguson, dan sisi East Stand, sejumlah fans Setan Merah tampak kesal dengan Di Maria. Saat inilah, sebuah botol melayang mengarah kepada eks pemain Real Madrid ini. Tapi Di Maria memiliki cara cerdas untuk membalas sang pelempar botol. Yakni dengan mengambil botol tersebut seolah-olah meminum isinya sebelum dilemparkannya keluar lapangan.

Namun, aksi Di Maria belum berhenti. Begitu juga dengan cemoohan fans United. Di Maria mengontrol bola dari sisi kiri lapangan dan mengirimnya ke Mbappe yang mencetak gol kedua PSG pada menit ke-60.

"Dia [Di Maria] mengalami masa sulit di babak pertama, dia sangat kompetitif. Jika Anda mencemoohnya, itu tidak membuatnya lemah. Saya pikir dia punya relasi bagus dengan fans. Dia sedikit gugup dan perlu menenangkan diri di babak pertama. Namun akhirnya dia menuntaskannya dengan bagus," jelas Pelatih PSG, Thomas Tuchel, seperti dilansir Reuters.

Perlakuan tidak mengenakkan untuk Di Maria juga datang dari pemain United, Ashley Young. Dia dilanggar Young hingga terpental keluar lapangan. Mantan pemain Inggris, Chris Sutton, saat didapuk sebagai pundit BT Sport menyebut Young pantas diusir dari lapangan setelah pelanggarannya kepada Di Maria. Apalagi sebelumnya, Young mendapat kartu kuning karena menjatuhkan Mbappe dalam situasi counter attack di babak pertama.

 

Kartu Merah

Wasit Daniele Orsato memang akhirnya mencabut kartu merah dari kantongnya. Namun kartu merah itu ditujukan kepada pemain United, Paul Pogba, pada menit ke-89. Pogba diusir ke luar lapangan karena mendapat kartu kuning kedua. Dia gagal membawa United melanjutkan tren tak terkalahkan selama 11 laga bersama pelatih interim Ole Gunnar Solskjaer.

Pogba mendapat pengawalan ketat dari pemain PSG, Marquinhos, selama pertandingan. Daya ledak United sontak mejan. Jesse Lingard dkk. hanya mengemas 1 tembakan on target selama 90 menit. Ini catatan terburuk Setan Merah di Liga Champions sejak 14 tahun silam atau tepatnya ketika mereka juga hanya melepaskan 1 shot on target melawan AC Milan pada babak 16 besar Februari 2005.

United pun berada di bibir jurang tersingkir dari Liga Champions. Sebab mereka perlu mencetak kemenangan minimal tiga gol di markas PSG pada leg kedua nanti jika ingin lolos ke perempat final. Dari data Opta, tidak ada satu pun dari 34 tim yang lolos ke babak selanjutnya dari fase knock out setelah mereka takluk dua gol pada leg pertama di kandang dalam sejarah Liga Champions.

"Tidak ada yang boleh mengasihani diri sendiri. Siapa pun yang mengasihani diri sendiri mungkin tidak akan bermain melawan Chelsea [di babak kelima Piala FA akhir pekan nanti]. Hari ini adalah kenyataan yang harus kami hadapi. Hambatan besar sudah kami daki, kalian tidak boleh menyerah dan mengatakan ini sudah berakhir. Kami akan ke sana [Parc des Princes, markas PSG], memainkan gaya kami dan memperbaiki kesalahan hari ini," jelas Solskjaer, seperti dilansir theguardian.com.