Keinginan Persis Solo Bermarkas di Maguwoharjo Temui Ganjalan, Begini Komentar Sesepuh Pasoepati

Sesepuh Pasoepati, Suprapto. (Istimewa)
27 Februari 2019 21:25 WIB Ivan Andimuhtarom Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO - Penolakan sejumlah suporter di wilayah DIY atas rencana Persis Solo menggunakan Stadion Maguwoharjo, Sleman, DIY, disayangkan beberapa pihak. Akibat penolakan dari suporter PSIM Jogja, Brajamusti dan The Maident serta suporter Persiba Bantul, Curva Nord Famiglia (CNF), perizinan dari Polda DIY dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman terancam gagal turun.

Sesepuh Pasoepati, Suprapto, menilai penggunaan Stadion Maguwoharjo sebenarnya bisa menjadi momen merealisasikan rekonsiliasi sesama suporter Jogja-Solo, termasuk di Kota Jogja dan Bantul. Momen itu seharusnya bisa menjadi suatu hal positif yang bisa dimanfaatkan untuk merajut persaudaraan dan menjauhkan klise sepak bola sebagai olahraga anarkis.

"Rivalitas selama 90 menit di dalam lapangan seharusnya selesai seiring berakhirnya pertandingan. Mari teman-teman Jogja dan Bantul, kita sudahi rivalitas di luar lapangan," ujarnya saat dihubungi Solopos.com, Rabu (27/2/2019).

Lelaki yang akrab disapa Prapto Koting itu mengatakan momentum itu seiring-sejalan dengan gerakan masif dari Satgas Antimafia Bola. Ia yakin, sepak bola Indonesia di masa depan bisa berprestasi. Peran suporter adalah memberikan semangat kepada tim kesayangan agar sepak bola nasional semakin berkembang.

"Mari suporter bersama-sama mengedepankan sportivitas," terangnya.

Namun begitu, ia mempersilakan Polda DIY dan Pemkab Sleman selaku pemegang otoritas untuk membuat kebijakan. Kedua pihak tersebut tentu memiliki pertimbangan-pertimbangan demi kebaikan bersama. Dia kiga berharap Persis diizinkan berbagi stadion dengan PSS Sleman.

Lebih lanjut, ia menilai hubungan Pasoepati dengan suporter Persiba, Paser Bumi, sebenarnya baik-baik saja. Mereka sudah saling kontak. Begitu juga hubungan dengan suporter PSIM, Maident. Mereka bahkan sempat beberapa kali saling kunjung. Hal itu seharusnya membuat iklim sepak bola semakin kondusif.

"Perdamaian suporter tergantu elite dan bawah. Ada kemauan enggak untuk damai? Bermusuhan di luar sepak bola tidak menguntungkan kita semua. Itu malah bisa membuat sponsor takut masuk ke sepak bola," kata dia.

Ditanya soal opsi lain jika Persis terpaksa tak mendapat izin penggunaan Stadion Maguwoharjo, Suprapto menyerahkannya kepada manajemen. Meski demikian, ia berharap manajemen mengajak suporter bicara untuk menentukan stadion yang paling pas.

"Saya harap ada komunikasi dua arah karena manajemen dengan suporter itu saling membutuhkan. Manajemen jangan membuat keputusan sepihak. Kalau saya pribadi, kalau bisa jangan ke Bekasi, yang dekat saja agar suporter bisa berbondong-bondong hadir melihat pertandingan secara langsung," paparnya.

Sementara itu, Sekjen Persis, Dedy M. Lawe, mengatakan masih menjajaki opsi stadion lain sebagai markas sementara Persis. Meski begitu, ia mengatakan akan memaksimalkan upaya agar Persis bisa berkandang di Stadion Maguwoharjo.

"Kami memang ada beberapa opsi stadion. Tapi ini dimaksimalkan dulu [Stadion Maguwoharjo]," ujarnya.