Peneliti Eropa Buktikan Ganja Picu Gangguan Mental

Barang bukti alat penghisap narkoba jenis sabu. - Istimewa
21 Maret 2019 04:10 WIB Aprianto Cahyo Nugroho Indonesia Share :

Solopos.com, JAKARTA - Kampanye legalisasi ganja terus menyebar di berbagai penjuru dunia, terlepas dari belum jelasnya risiko atau manfaat dari penggunaan zat ini.

Namun, studi terbaru di Eropa mengungkapkan penggunaan ganja secara rutin meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan psikosis, yang merupakan pencetus utama dari banyak gangguan mental dan kejiwaan.

Seperti dikutip NBC News, Hasil studi dari Lancet Psychiatry, yang mengamati penggunaan ganja di 11 kota besar dan di Brasil, menunjukkan dampak penggunaan ganja terhadap peningkatan terjadinya gangguan prikosis dalam populasi besar.

Dampak konsumsi ganja terhadap psikosis yang terbesar terjadi di London dan Amsterdam. Di kedua kota ini, ganja dengan potensi tinggi atau yang mengandung lebih dari 10% THC (tetrahydrocannabinol) paling banyak tersedia bebas.

Di Amsterdam, setengah dari kasus psikosis baru memiliki hubungan dengan penggunaan ganja potensi tinggi, lebih tinggi dibandingkan London yang hanya sepertiga dari kasus baru.

"Temuan kami sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa penggunaan ganja dengan konsentrasi THC tinggi memiliki efek lebih berbahaya pada kesehatan mental dari pada ganja dengan konsentrasi THC yang lebih rendah," ungkap Dr. Marta Di Forti, penulis utama dari Institute of Psychiatry, Psychology, and Neuroscience di King's College, seperti dikutip NBC News.

“Untuk pertama kalinya kami memiliki bukti yang konsisten bahwa ada hubungan antara dosis penggunaan ganja dan psikosis yang diinduksi pada tingkat populasi. Semakin banyak ganja yang dikonsumsi, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami gangguan psikotik,” lanjutnya

Studi ini mengamati 901 orang dengan fase gangguan psikosis awal yang mengunjungi layanan kesehatan mental di seluruh Eropa antara tahun 2010 dan 2015.

Para peneliti mengumpulkan informasi sejarah partisipan terkait penggunaan ganja dan obat-obatan psikotropika lainnya. Mereka menggunakan data yang dipublikasikan untuk memperkirakan tingkat THC dalam jenis ganja yang digunakan oleh sampel.

Penelitian sebelumnya telah mengaitkan penggunaan ganja dan psikosis, tetapi studi tersebut belum mendapat cukup sampel populasi untuk memberikan hasil yang dapat diandalkan.

Sebuah penelitian di Kanada yang diterbitkan dalam Journal of Child Psychology and Psychiatry pada tahun 2017 menunjukkan peningkatan yang besar dalam "pengalaman mirip gangguan psikotik" pada pengguna remaja. Studi ini juga melaporkan efek buruk pada perkembangan kognitif dan peningkatan gejala depresi.

Sementara itu, studi lain menunjukkan bahwa penggunaan ganja dalam dosis tinggi bahkan dapat mengganggu perkembangan normal otak remaja. "Hasil penelitian ini perlu ditanggapi dengan serius," ungkap Dr. Adrian James, dari Royal College of Psychiatrists.

"Ganja membawa risiko kesehatan yang parah dan pengguna memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita psikosis. Risiko meningkat ketika ganja dengan tingkat THC tinggi, digunakan oleh anak-anak dan remaja secara rutin," ungkap James.

Banyak negara telah melegalkan atau mengurangi kriminalisasi terhadap penggunaan ganja. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan mengakibatkan peningkatan penggunaan ganja serta risiko yang mengikutinya.

Studi mengenai ganja tidak dapat dilakukan di AS karena zat ini berada di kelas yang sama dengan heroin dan LSD, yang memiliki potensi penyalahgunaan yang tinggi. Tetapi, ganja dilegalkan di 33 negara bagian jika digunakan atas petunjuk dokter.