Fulham Turun Kasta, Bukti Uang Bukan Segalanya di Sepak Bola

Fulham (Reuters/Peter Cziborra)
04 April 2019 14:55 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, LONDON - Pada 26 Mei 2018, sinar matahari di sore hari di Stadion Wembley membuat fans Fulham terlihat berseri-seri. Saat itu, tim kesayangan mereka mengalahkan Aston Villa 1-0 pada final play-off Championship.

Gol semata wayang dari kapten Tom Cairney pada menit ke-23 membuat tim berjuluk The Cottagers sangat berarti karena karena memastikan mereka promosi ke Liga Premier Inggris untuk kali pertama setelah absen selama empat tahun.

Belum genap setahun, tepatnya pada 2 April 2019 di tengah rintik hujan, fans Fulham kembali mengumbangkan chant dengan lantang. Tapi kali ini fans The Cottagers bukan lagi bernyanyi dengan wajah berseri-seri. Mereka menyanyikan kesedihan dan kekecewaan setelah tim mereka dibantai 1-4 oleh Watford di Viccarage Road Stadium yang memastikan Fulham terdegradasi ke Championship musim depan.

Rupanya, hanya setahun The Cottagers bertahan di kasta tertinggi sepak bola Inggris ini. Padahal, mereka memulai Liga Premier Inggris 2018/2019 dengan optimisme tinggi. Owner Fulham berdarah Pakistan dan berpaspor Amerika Serikat, Shahid Khan, rela mengeluarkan kocek sekitar 100 juta poundsterling (Rp1,8 triliun) untuk membeli lima pemain baru.

Total, ada 12 pemain anyar yang didatangkan ke markas Fulham, Craven Cottage, awal musim ini. Termasuk tujuh pemain berstatus pinjaman. Belanja gila-gilaan di bursa transfer pemain itu bahkan sempat membuat klub-klub besar Liga Premier iri sekaligus mawasdiri dengan kehadiran tim promosi ini.

Tapi uang ternyata bukan segalanya. Duit yang jumlahnya hampir setara ketika Juventus membeli Cristiano Ronaldo dari Real Madrid pada musim panas lalu tersebut gagal mendongkrak permainan The Cottagers. Fulham menjadi frustrasi. Itu terlihat bagaimana mereka sampai dinakhodai tiga pelatih berbeda dalam rentang semusim ini, dari Slavisa Jokanovic, Caludio Ranieri, hingga pelatih karteker Scott Parker. Jokanovic dan Ranieri dipecat. Selanjutnya digantikan Parker hingga akhir musim.

Fulham menyusul Huddersfield Town sebagai tim yang sudah memastikan terdegradasi musim depan. The Cottagers hanya mengantongi 17 poin dalam 33 laga. Dua poin di antaranya dicetak di laga tandang, dari 48 poin laga away yang bisa direbut. Bahkan Fulham menjadi satu-satunya tim yang belum pernah menang dalam laga tandang di antara tim-tim lain di kasta pertama hingga keempat sepak bola Inggris!

"Saya minta maaf karena membiarkan kalian [fans Fulham] sedih. Target kami musim ini meningkatkan apa yang kami capai saat promosi dan berinvestasi besar ke skuat, agar Fulham bisa selalu bersaing di Liga Premier, tidak peduli hasil, tidak pernah mengecewakan," jelas Shahid Khan, seperti dilansir dailymail.co.uk.