Persis Solo Pilih Stadion Wilis, Suporter Dorong Perbaikan Lapangan

Para pemain Persis Solo menjalani latihan di Stadion Wilis. (Madiunpos.com/Abdul Jalil)
07 April 2019 17:25 WIB Chrisna Chaniscara Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO — Suporter Persis Solo legawa dengan pemilihan Stadion Wilis, Madiun, sebagai homebase sementara tim menggantikan Stadion Maguwoharjo, Sleman. Namun fans mendorong adanya pembenahan lapangan di Stadion Wilis sebelum digunakan Persis.

Mereka menilai kondisi lapangan di Wilis cenderung keras dan bergelombang sehingga berpotensi mengganggu performa Laskar Sambernyawa. Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, mengatakan pemilihan Stadion Wilis sebagai homebase memang paling realistis sejauh ini.

Selain berjarak relatif dekat dengan Solo, Persis sudah memiliki hubungan baik dengan pemerintah daerah setempat karena pernah ber-homebase di stadion yang sama musim lalu. Namun dia menggarisbawahi kualitas lapangan menjadi evaluasi saat Laskar Sambernyawa menggunakan Stadion Wilis tahun kemarin.

“Lapangannya sangat bergelombang sehingga membuat aliran bola kurang lancar. Padahal kami melihat pola permainan Persis saat ini masih mengandalkan umpan-umpan pendek menyusur tanah,” ujar Rio, sapaan akrabnya, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (6/4/2019).

Selain bergelombang, Rio menyebut kondisi lapangan di Stadion Wilis cukup keras sehingga membuat pemain rawan cedera. Pihaknya mendorong Laskar Sambernyawa intens berkomunikasi dengan pemerintah daerah setempat ihwal kemungkinan pembenahan lapangan. Kompetisi Liga 2 2019 sendiri bakal berlangsung sekitar dua bulan lagi.

“Kami dengar manajemen Persis sudah pernah berdialog dengan Pemkot Madiun soal ini, tapi kabarnya masih menunggu anggaran daerah. Ada baiknya Persis menanyakan kejelasan pembenahan tersebut,” ujar Rio.

Perwakilan Surakartans, Adith, menilai kualitas dan kapasitas Stadion Wilis jelas masih di bawah Stadion Maguwoharjo. Senada Rio, Adith juga menyoroti kondisi lapangan di Stadion Wilis yang kurang standar sehingga berpotensi mengganggu skema permainan Laskar Sambernyawa.

Jika memungkinkan, pihaknya juga mendorong pembenahan lapangan meski dengan cara bertahap. “Jangan sampai strategi permainan malah menyesuaikan kondisi lapangan. Persis bukan tim dengan bola-bola lambung,” ujar Adith.