Coppa Italia: Atalanta Siap Ulangi Pencapaian Manis 1963

Atalanta (Reuters/Ciro De Luca)
26 April 2019 23:25 WIB Chrisna Chaniscara Dunia Share :

Solopos.com, BERGAMO — Atalanta adalah imitasi Ajax Amsterdam. Ungkapan tersebut dilontarkan Giancarlo Rinaldi, seorang kolumnis sepak bola Italia, menyikapi fenomena Atalanta musim ini. Mengandalkan pemain muda macam Gianluca Mancini, Timothy Castagne hingga Mario Pasalic, klub berjuluk La Dea (Sang Dewi) itu secara mengejutkan menjadi kompetitor untuk empat besar Seri-A.

Berada di posisi kelima, posisi Atalanta kini lebih baik dari duo Ibu Kota, AS Roma dan Lazio. Mereka pun memunyai poin identik dengan AC Milan di posisi empat atau peraih tiket terakhir Liga Champions musim depan. Layaknya Ajax, Atalanta pun cukup sukses dalam turnamen yang mereka jalani.

Papu Gomez dkk. baru saja memastikan posisi di final Coppa Italia setelah membekuk Fiorentina dengan skor 2-1 (agregat 5-4) dalam leg II semifinal di Atleti Azzurri d'Italia, Jumat (26/4/2019) dini hari WIB. Sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Luis Muriel di menit ketiga, Atalanta berhasil membalikkan keadaan lewat penalti Josip Ilicic di menit ke-14 serta aksi Papu Gomez di menit ke-69.

Kemenangan ini pun langsung disambut belasan ribu suporter La Dea yang memadati stadion. Maklum, sudah cukup lama Atalanta tak merasakan trofi Coppa Italia. Kali terakhir mereka menjuarai turnamen pada tahun 1963 saat hattrick Angelo Domenghini membawa Atalanta unggul 3-1 atas Torino.

Setelah periode itu, La Dea sebenarnya sempat mencapai babak final pada 1987 dan 1996. Namun mereka keok di kedua final tersebut. Presiden Atalanta, Antonio Percassi, mengatakan kelolosan timnya ke final Coppa Italia seperti sebuah mimpi. “Jujur, ini seperti mimpi. Kami mengalahkan tim-tim yang kelihatannya mustahil untuk dikalahkan,” ujar Percassi seperti dilansir Football Italia, Jumat.

Sebelum menyingkirkan Fiorentina, Atalanta sempat mempermalukan Juventus dengan skor telak 3-0 di perempat final. Di babak 16 besar Atalanta juga menang meyakinkan 2-0 atas Cagliari. Tanggal 16 Mei La Dea sudah ditunggu Lazio demi mengakhiri penantian gelar juara selama 56 tahun. “Akan ada sekitar 20.000 suporter yang akan berangkat ke Roma. Bisa dibilang, sebagian dari Bergamo akan pergi ke final. Semoga tim terbaik yang juara,” ujar Percassi.

Sementara itu, tersingkirnya Fiorentina meninggalkan kekecewaan bagi Vincenzo Montella. La Viola mengulangi kesalahan saat dibekuk Juventus 1-2 di Seri-A pekan lalu. Saat itu Federico Chiesa dkk. juga sempat unggul lebih dulu. “Banyak penyesalan karena tim bermain dengan hati dan jiwa, tapi tidak berhasil mengambil peluang,” ujar sang pelatih.