Menit Akhir Mematikan, Spurs ke Final Liga Champions Lewat Lubang Jarum

Pemain Tottenham Hotspurs, Lucas Moura (kedua dari kiri) dan Dele Alli, berselebrasi setelah mengalahkan Ajax Amsterdam di Amsterdam Arena, Kamis (9/5 - 2019) pagi WIB dan memastikan diri lolos ke final Liga Champions. (Reuters/Matthew Childs)
09 Mei 2019 05:07 WIB Adib Muttaqin Asfar Dunia Share :

Solopos.com, AMSTERDAM -- Ajax Amsterdam nyaris berpesta di Amsterdam Arena beberapa menit sebelum laga leg kedua semifinal Liga Champions, Kamis (9/5/2019) pagi WIB berakhir. Bahkan puluhan ribu suporter mereka sudah siap menyanyikan yel yel dan mengibarkan bendera tanda tiket ke final sudah di depan mata.

Namun Lucas Moura yang diplot sebagai penyerang tunggal Tottenham Hotspurs menggagalkan pesta Dusan Tadic dkk. Moura menyarangkan gol ketiganya ke gawang Andre Onana di laga paling dramatis itu pada menit 90+6 alias menjelang pertandingan bubar.

Spurs membuat pertandingan ini sebagai laga paling dramatis sejak fase knock out Liga Champions musim ini. Datang ke Amsterdam dalam situasi tertinggal agregat 1-0, Christian Eriksen dkk justru kebobolan dua gol di babak pertama.

Ajax unggul cepat melalui gol Matthijs de Ligt lewat sundulan pada menit 5 memanfaatkan sepak pojok Schone. Ajax yang bermain cepat mampu menggandakan kedudukan melalui Hakim Ziyech yang mencetak gol pada menit 35. Praktis, mereka langsung unggul agregat 3-0 di babak pertama.

Memasuki babak kedua, pelatih Spurs, Mauricio Pochettino, menginstruksikan para pemainnya bermain cepat dan lebih terbuka. Dia menarik Victor Wanyama dan memasukkan Fernando Llorente.

Hasilnya, Spurs tampil lebih menyerang melalui pergerakan Llorente di sisi kanan. Son Heung Min, Dele Alli, Eriksen, dan Moura berupaya menembus pertahanan Ajax yang sangat rapat dengan permainan cepat, namun selalu gagal menembus kotak penalti.

Pertahanan Ajax akhirnya jebol pada menit 55 saat Moura mencetak gol pertamanya. Berawal dari pergerakan Rose di sisi kiri, Alli membawa bola sebelum mengumpannya ke Moura yang mengonversikannya menjadi gol.

Moura hanya butuh waktu 4 menit untuk mencetak gol kedua sekaligus memaksakan skor menjadi 2-2. Berawal dari tembakan keras Llorente yang diblok oleh Onana, bola liar jatuh ke kaki Moura yang menaklukkan gawang Ajax kali kedua.

Melihat Spurs yang mengejar 1 gol lagi untuk meraih keunggulan gol tandang, pelatih Ajax Erik Ten Hag membuat perubahan. Dia menarik striker Kasper Dolberg dan memasukkan bek kiri Daley Sinkgraven. Hasilnya, pertahanan Ajax menjadi lebih rapat namun masih kerap melakukan serangan berbahaya.

Hingga perpanjangan waktu babak kedua, Spurs belum juga mencetak gol tambahan yang berarti mereka masih tertinggal agregat 3-2. Publik Amsterdam Arena pun siap berpesta. Bahkan pada menit 90+5, Onana mendapatkan kartu kuning gara-gara dianggap terlalu mengulur waktu.

Siapa sangka semenit kemudian Moura mencetak gol ketiga dalam kesempatan terakhir Spurs. Saking tak percayanya, Pochettino dengan emosional bersimpuh di pinggir lapangan. Spurs lolos dari lubang jarum dan menuju final menghadapi Liverpool dengan keunggulan gol tandang.

Sebaliknya, para pemain Ajax tersungkur ke tanah tanda kekecewaan mendalam. Onana yang tiga kali kebobolan tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya. Begitu pula para suporter mereka yang memegang kepala seolah tak percaya atas apa yang baru saja terjadi.

Spurs pun mencetak sejarah mereka sendiri dengan lolos ke final Liga Champions untuk kali pertama. Hal ini sekaligus mencatatkan final sesama tim Inggris kali ketiga di kompetisi besar UEFA setelah final Piala UEFA 1972 (Spurs vs Wolves) dan final Liga Champions 2008 (Manchester United vs Chelsea).