Juara Coppa Italia, Lazio Akhiri Puasa Gelar

Lazio merayakan gelar juara Coppa Italia 2018-2019 di Stadion Olimpico, Roma, Italia, Kamis (16/5 - 2019) dini hari WIB. (Reuters/Ciro De Luca)
16 Mei 2019 22:25 WIB Chrisna Chaniscara Dunia Share :

Solopos.com, ROMA — Bagi sejumlah kalangan, bermain sepak bola dengan cantik adalah sebuah keharusan. Namun ada pula anggapan klub boleh melakukan “segalanya” sepanjang mereka dapat meraih kemenangan. Poin kedua tampaknya menjadi pilihan Lazio ketika sukses membungkam Atalanta dengan skor 2-0 dalam final Coppa Italia di Olimpico, Kamis (16/5/2019) dini hari WIB.

Sejak awal Lazio cenderung bermain keras untuk membatasi pergerakan pemain Atalanta, terutama Josip Ilicic. Total Le Aquile, julukan Lazio, mencatat 15 pelanggaran dan empat kartu kuning. Pendekatan fisikal ini pun membuat penggawa Atalanta frustrasi karena sulit mengembangkan permainan seperti saat mereka membungkam Juventus dan Fiorentina.

Di tengah rasa putus asa sang lawan, Lazio menunjukkan etos mereka lewat gol Sergej Milinkovic-Savic dan Joaquin Correa di delapan menit terakhir. Dua gol ini sudah cukup untuk mengubur mimpi Atalanta yang mendamba gelar Coppa Italia perdana sejak 1963. Bagi Lazio, ini adalah trofi ketujuh sepanjang sejarah klub sekaligus mengakhiri puasa gelar sejak 2012/2013.

Pelatih Lazio, Simone Inzaghi, tak mampu menutupi kegembiraannya setelah mengangkat trofi Coppa Italia. Lazio memang sempat menyia-nyiakan peluangnya pada 2015 dan 2017 setelah gagal di partai final. “Kami layak mendapatkannnya setelah kami bekerja keras selama tiga tahun terakhir. Kami akan menikmati kemenangan ini,” ujar Lazio seperti dilansir Football Italia, Kamis.

Gelar Coppa Italia juga pelipur lara bagi Inzaghi setelah musim yang buruk di Seri-A. Sempat berada di jalur menuju empat besar, Ciro Immobile dkk. kini justru terlempar ke posisi delapan setelah hanya meraih tiga kemenangan dalam delapan laga terakhir. Dengan trofi Coppa Italia di tangan, Lazio sudah pasti lolos ke Liga Europa musim depan meski finis di luar enam besar.

Sementara itu, Pelatih Atalanta, Gian Piero Gasperini, menyalahkan wasit Luca Banti yang tidak memberinya penalti setelah tembakan Marten de Roon mengenai tangan Bastos di kotak penalti pada babak pertama. Sang pelatih menilai laga bisa berbeda andai wasit menunjuk titik putih. “Ini benar-benar mengubah segalanya. Ini sangat serius, tidak dapat diterima. Mestinya wasit mengecek VAR [video assistant referee],” rutuk Gasperini.