Final Liga Champions: Pembuktian Mereka yang Pernah Termarjinalkan

Andrew Robertson (Reuters/Phil Noble)
31 Mei 2019 18:30 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, MADRID - Andrew "Andy" Robertson pernah dipaksa menelan pil pahit di awal kariernya. usianya ketika itu baru 15 tahun. Setahun lagi dia seharusnya bisa mendapatkan pra-kontrak. Namun, klubnya saat itu, Celtic, mematahkan hati Robertson hingga bekeping-keping.

Dia merasa seperti berada di neraka ketika direktur teknik baru Celtic mengatakan dirinya tidak dalam rencana jangka panjang klub asal Skotlandia tersebut. Robertson remaja pun menangis, meski dirinya tahu ibunya tidak akan membiarkannya meneteskan air mata. Dengan dukungan keluarga, Robertson mencoba bangkit.

Dia berlabuh ke Queen Park Rangers pada 2010. Karier Robertson tidak berjalan mulus sehingga dia dijual ke Dundee United dan kemudian dibeli Hull City. Dari Hull, penampilan Robertson dilirik Liverpool. Dia akhirnya hijrah ke tim polesan Jurgen Klopp pada 2017 silam.

Awal karier Robertson di Liverpool ternyata juga tidak langsung mulus. Dia kurang bisa meyakinkan hati Klopp untuk masuk line-up timnya. Yang terjadi, meski Robertson mengenakan jersey dan selalu ikut rombongan The Reds setiap kali melakoni away day, dia merasa seperti bukan pemain Liverpool seutuhnya.

Dalam kondisi yang nyaris frustrasi menembus tim utama, Robertson enggan menyerah. Dia mengingat kembali masa-masa sulitnya sejak di Celtic maupun QPR untuk bangkit merebut posisi di skuat Klopp. "Jadi, saya hanya perlu kembali ke latihan setiap hari dan berusaha untuk mencuri perhatian manajer dengan kerja keras dibandingkan pemain lain," kata Robertson kepada The Players Tribune, Kamis (30/5/2019).

"Secara perlahan, dia mulai memanggilku. Saya pikir dia hanya menunggu untuk memanggilku, untuk merasa seperti benar-benar pemain Liverpool dan punya kepercayaan diri. Dan ketika dimasukkan line-up, saya sudah siap," imbuhnya.

Oleh karena itu, dia menolak jika kariernya dinilai seperti dongeng. Tidak sedikit yang menyebut bek kiri Liverpool tersebut dengan julukan Cinderella Man. Dia dinggap beruntung karena bakal memperkuat Liverpool dalam final Liga Champions secara back-to-back saat berjumpa Tottenham Hotspur di Stadion Wanda Metropolitano, Madrid, Minggu (2/6/2019) pukul 02.00 WIB. Namun, orang-orang yang menganggap Robertson mujur, sesungguhnya mereka tidak menengok masa-masa sulit sang pemain.

"Tidak ada tongkat ajaib yang melambai ke arahku, saya tidak menenangkan semacam lotre untuk bisa memperkuat salah satu klub terbesar di dunia. Ada alasan mengapa saya menjadi pemain Liverpool, seperti alasan mengapa saya menjadi kapten tim negaraku, saya bekerja keras untuk bisa sampai di sini, dan dengan itu, saya bisa mengeluarkan bakat terbaik dalam diriku," jelas Robertson.

Kisah sebagai pemain yang pernah termarjinalkan juga dialami bomber Tottenham, Harry Kane. Saat usianya baru delapan tahun, Kane dibuat patah hati karena akademi yang menanguinya ketika itu, Arsenal, membuangnya begitu saja.

"Saya berjalan di taman dengan ayahku, dan dia bilang 'saya akan memberitahu sesuatu'. Saya bilang, 'oke yah, apa itu?'. Kemudian dia memegang pundakku dan mengatakan, 'Baiklah Harry...Arsenal telah melepasmu," ungkap Kane.

Namun seperti Robertson yang tak tergantikan di Liverpool, Kane menjelma menjadi pemain penting di klubnya saat ini. Setelah absen dalam leg kedua perempat final melawan Manchester City serta dua leg semifinal kontra Ajax Amsterdam, Kane siap kembali tampil membela Spurs di Liga Champions. Cederanya dikabarkan telah pulih.

Trofi Liga Champions yang diperebutkan di Wanda Metropolitano nanti bisa menjadi bukti perjuangan keras dan panjang yang dialami Robertson, Kane, maupun pemain-pemain lain dari kedua kubu yang pernah mengalami nasib serupa. Bahwa roda karier bisa berubah 180 derajat ketika mereka berusaha keras dan tak pernah menyerah mewujudkan mimpi.