Brasil Vs Peru: Saatnya Kembalikan Dominasi!

Tim Nasional Brasil (Reuters/Luisa Gonzalez)
07 Juli 2019 17:25 WIB Hanifah Kusumastuti Dunia Share :

Solopos.com, RIO DE JANEIRO - Dominasi Brasil di Copa America terasa kuat pada 1997-2007. Dalam kurun waktu tersebut, tim berjuluk Selecao meraih empat trofi dalam lima edisi dalam turnamen antarnegara tertua di dunia ini.

Total, Brasil mengoleksi delapan trofi. Mereka menjadi negara ketiga yang paling banyak mengumpulkan gelar dalam sejarah Copa America, setelah Uruguay dengan 15 titel dan Argentina dengan 14 trofi. Namun sejak 2007, dominasi Brasil pada Copa America hilang tak berbekas. Mereka gagal finis sebagai juara, bahkan tidak pernah mencapai semifinal, dalam tiga edisi berikutnya.

Nah, Copa America 2019 ini menjadi kesempatan emas bagi Brasil mengakhiri kutukan tak pernah juara di turnamen ini sejak 2007 alias 12 tahun silam. Syaratnya, Brasil harus menundukkan Peru pada babak pamungkas di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Senin (8/7/2019) pukul 03.00 WIB.

Brasil pantas percaya diri. Mereka menghajar Peru 5-0 pada fase grup, dua pekan lalu. Tapi, kali ini Philippe Coutinho cs. diyakini tidak akan "bergoyang" Samba dengan leluasa ketika melawan Peru di Maracana. Los Incas, julukan Peru, telah menunjukkan kekuatan mereka sesungguhnya saat menyingkirkan tim favorit Uruguay lewat adu penalti pada perempat final dan juara dua kali beruntun, Chile, dengan skor 3-0 pada semifinal.

"Ini akan jadi final yang hebat, laga yang benar-benar sulit. Kami tidak berpikir sudah menang, kami harus memainkannya. Mereka mengeliminasi tim-tim besar, Uruguay dan Chile, kami harus respek kepada mereka," jelas gelandang Brasil, Casemiro, seperti dilansir sports.yahoo.com, Sabtu (6/7/2019).

Brasil akan mengandalkan pertahahan superbaja untuk menjinakkan serangan Peru yang dimotori Paolo Guerrero dkk. Gawang Selecao yang dikawal Alisson Becker belum pernah kebobolan satu gol pun dalam waktu normal dan babak perpanjangan waktu selama Copa America 2019. Cesemiro yang berposisi sebagai gelandang bertahan berjanji membantu mengamankan gawang Brasil tetap perawan hingga akhir turnamen.

"Target utama kami menuntaskan turnamen dengan kebobolan satu gol saja. Dan jika kami tidak tidak kebobolan sama sekali, maka bukan hanya perlu berterimakasih kepada para pemain di belakang, berterima kasih juga pemain depan yang sudah banyak membantu kami dan itu menjadi pembeda," jelas Casemiro.

Guerrero bakal menjadi ancaman serius pertahanan Selecao. Bomber berusia 35 tahun itu tak hanya berada di urutan ketiga dalam daftar top scorer sepanjang sejarah Copa America dengan 13 gol. Guerrero berpengalaman dalam pertandingan final. Ia pernah mencetak gol penentu kemenangan mantan klubnya, Corinthians, melawan Chelsea pada final Piala Dunia Klub 2012. Guerrero juga pernah membantu Corinthians menjuarai Liga Brasil pada 2013.

"Dia pemain yang layak mendapat atensi khusus atas segala yang sudah dilakukannya di masa lalu. Saya mengenalnya dengan sangat baik, saya bermain dengannya sebentar di Corinthians dan saya melawannya beberapa kali di panggung tim nasional," jelas bek sentral Brasil, Marquinhos.

Jika bisa menundukkan Brasil, Guerrero akan meraih trofi perdananya dengan Peru di Copa America. Dalam dua kesempatan, ia membawa Los Incas mencapai peringkat ketiga terbaik, masing-masing pada 2011 dan 2015.

Pertandingan ini sendiri akan menjadi final kali kedua Peru selama 103 tahun sejarah tim ini berdiri. Pada final sebelumnya, Peru menundukkan Kolombia pada 1975 di Caracas untuk meraih trofi kedua di Copa America. Sedangkan trofi perdana Peru diperoleh pada Copa America 1939, di mana format turnamen ketika itu masih memakai sistem round-robin.

"Ketika Anda sudah sampai di sini [final], Anda harus memenanginya, meski tim yang kami hadapi Brasil yang sangat sulit," jelas Pelatih Peru, Ricardo Gareca, seperti dikutip copaamerica.com.