Rugi! Senegal Tanpa Koulibaly di Final Piala Afrika 2019

Kalidou Koulibaly (Reuters/Suhaib Salem)
15 Juli 2019 21:25 WIB Chrisna Chaniscara Dunia Share :

Solopos.com, KAIRO — Timnas Senegal harus bermain tanpa bek andalannya, Kalidou Koulibaly, dalam final Piala Afrika 2019 melawan Aljazair di Kairo, 20 Juli 2019. Kartu kuning yang didapatnya di semifinal melawan Tunisia, Senin (15/7/2019) dini hari WIB, membuatnya harus absen karena akumulasi kartu. Hal tersebut jelas merugikan mengingat Koulibaly tak tergantikan di lini belakang Senegal.

Koulibaly mendapat kartu kuning kedua dalam turnamen setelah melakukan handball di kotak penalti pada menit ke-73 kontra Tunisia. Beruntung blunder bek Napoli itu tak berujung gol lantaran algojo Tunisia, Ferjani Sassi, gagal menjalankan tugasnya. Namun absennya Koulibaly di laga krusial melawan Aljazair tentu merupakan kehilangan besar bagi Singa Teranga, julukan Senegal.

“Sangat menyedihkan kami tidak akan bersama Kalidou. Dia pemain vital untuk tim, pemain yang sellau memberikan segalanya,” ujar gelandang Senegal, Pape Alioune Ndiaye, seperti dilansir Eurosport, Senin.

Duet Koulibaly dengan Cheikhou Kouyate memang membuat lini belakang Senegal bagaikan karang. Dari enam pertandingan yang telah dijalani di turnamen, Singa Teranga baru kebobolan sebiji gol. Yang menarik, satu-satunya gol ke gawang Senegal ini terjadi saat mereka dibekuk Aljazair dengan skor 0-1 di fase grup.

Saat itu aksi Youcef Belaili gagal dihentikan barisan belakang Senegal. Meski demikian, Senegal optimistis mampu membalas kekalahan itu di partai final. “Kami akan melakukannya untuk Kalidou,” tambah Pape Ndiaye.

Pelatih Senegal, Aliou Cisse, melihat duel final melawan Aljazair bakal menjadi laga penting bagi kemajuan sepak bola Afrika. Cisse merasa tak ada lagi status unggulan karena semua bisa terjadi di babak final. Pertandingan itu sendiri menjadi laga kedua Cisse di final Piala Afrika. Sebelumnya dia pernah menjejakkan kaki di final sebagai pemain saat Senegal dibekuk Kamerun lewat adu penalti tahun 2002.

“Sebuah kehormatan bisa kembali ke final. Sudah 17 tahun sejak kami berjalan sejauh ini. Tentu kami ingin menghapis kekecewaan pada 2002. Mimpi memenangkan trofi bukan hanya untukku, tapi untuk semua warga Senegal,” ujar Cisse.