Liga Italia: Potensi Drama di Akhir Musim

Napoli melawan Juventus di Stadion San Paolo, Naples, Italia, Senin (4/3 - 2019) dini hari WIB. (Reuters/Ciro De Luca)
31 Juli 2019 09:25 WIB Chrisna Chaniscara Dunia Share :

Solopos.com, ROMA — Beberapa musim terakhir persaingan Seri-A cenderung menjemukan menyusul keberhasilan Juventus yang sukses menyegel gelar sebelum kompetisi berakhir. Musim lalu, Si Nyonya Tua sudah memastikan scudetto di pekan ke-33 setelah menghajar Fiorentina dengan skor 2-1, 22 April 2019.

Namun kali ini drama kompetisi boleh jadi bakal berlangsung hingga akhir musim. Dalam jadwal Seri-A 2019/2020 yang dilansir Twitter Seri-A, tim seperti Juventus, Napoli, Inter Milan, AS Roma dan Lazio memiliki jadwal berat jelang musim paripurna.

Hal ini tentu menarik mengingat kelima klub itu selalu dapat bersaing di papan atas dalam beberapa musim terakhir. Terhitung sejak pekan ke-34, Juventus akan bentrok dengan Napoli, sedangkan Inter bakal meladeni Roma.

Dua pekan berikutnya Nerazzurri kembali menghadapi laga sulit melawan Fiorentina serta Napoli. Adapun Roma harus melawan tim kuda hitam, Torino. Pekan ke-38 akan sangat menegangkan apabila sampai laga pamungkas tersebut belum ada tim yang menyegel scudetto. Pekan terakhir akan mempertemukan Atalanta versus Inter, Juventus kontra Roma serta Napoli melawan Lazio.

Pelatih Roma, Paulo Fonseca, mengaku antusias melihat jadwal pertandingan yang mempertemukannya dengan Cristiano Ronaldo dkk. di pekan terakhir. Dia menyebut laga itu akan sangat menentukan bagi ambisi kedua tim. “Mungkin undian ini bakal berpengaruh [pada klasemen akhir musim],” ujar Fonseca seperti dilansir Football Italia, Selasa (30/7/2019).

Persaingan menuju scudetto musim ini bisa dibilang sulit dibaca karena tim besar seperti Juve, duo Milan dan Roma memiliki pelatih baru. Terlepas dari kedigdayaan Juventus di Seri-A delapan musim terahir, Maurizio Sarri faktanya belum teruji menangani tim barunya. Sejauh ini Sarri juga belum pernah mempersembahkan gelar pada timnya di kompetisi domestik. Hal itu bisa menjadi peluang tim pesaing asal mereka konsisten sejak pekan awal.

Pelatih Inter, Antonio Conte, melihat peta persaingan bakal sangat menarik karena banyak klub papan atas yang berganti pelatih. Conte tak sabar ingin melihat sejauh mana pelatih bisa cepat menerapkan ide permainannya ke tim. Inter sendiri bakal mengalami perubahan frontal di bawah Conte karena berganti formasi dari 4-2-3-1 menuju 3-5-2.

“Pelatih baru membawa metode dan visi kerja baru. Yang penting adalah mengasimilasi perubahan secepat mungkin,” ujar Conte.