Dedi Out, Langkah Awal Revolusi Manajemen Persis Solo

Dedi M. Lawe (Twitter/persisofficial)
31 Juli 2019 14:25 WIB Chrisna Chaniscara Indonesia Share :

Solopos.com, SOLO — Pencopotan Dedi Massudi Lawe dari tampuk Sekjen Persis Solo diyakini bakal menjadi pintu masuk untuk pembenahan manajemen tim secara keseluruhan. PT Persis Solo Saestu (PSS) selaku pengelola Persis mengirim sinyal penyehatan manajemen bakal dilakukan sesegara mungkin, tepatnya jelang putaran kedua kompetisi Liga 2 2019.

PT PSS juga berkomitmen menggandeng seluruh elemen suporter Persis untuk memberi masukan menuju perbaikan manajemen Laskar Sambernyawa. Hal itu disampaikan Direktur Utama PT PSS, Eddy Junaidi, saat dihubungi Solopos.com, Selasa (30/7/2019). Eddy mengatakan keputusan menonaktifkan Dedi tak lepas dari masukan stakeholder Persis, mulai dari DPP Pasoepati, Surakartans, tokoh suporter di Solo hingga suporter akar rumput.

Sepekan terakhir Eddy dan timnya dari Jakarta turun ke Solo untuk mengetahui problem tim secara komprehensif. “Per hari ini [Selasa] Dedi resmi kami nonaktifkan, sembari terus mencari solusi permanen [untuk membenahi manajemen],” ujar Eddy.

Pihaknya mengakui ada sejumlah kesalahan yang dilakukan Dedi ketika menjabat Sekjen Persis. Menurut Eddy, ada sejumlah misinformasi yang diterima manajemen Persis di Jakarta dengan keadaan sebenarnya di Solo dan Madiun, kandang sementara Persis. Dia mencontohkan pemilihan Stadion Wilis, Madiun, menjadi tempat launching tim yang kemudian memantik polemik dengan pendukung.

“Sejak musim 2018, wewenang untuk mengatur tim sejatinya sudah kami berikan pada Dedi, manajemen pusat sekadar mengetahui saja. Namun dalam satu setengah tahun terakhir hubungan suporter dengan manajemen tampaknya semakin memburuk.”

Pasoepati mendorong pencopotan Dedi dapat menjadi langkah awal perombakan total manajemen. Presiden Pasoepati, Aulia Haryo Suryo, mengatakan suporter hanya menginginkan Persis dikelola dengan benar oleh orang yang paham sepak bola.

“Ibaratnya, penonaktifan Dedi bisa mulai mengurai benang kusut yang terjadi selama ini. Ke depan manajemen Persis harus dipilih dari orang yang benar-benar profesional.”

Sementara itu, Dedi M. Lawe mengonfirmasi dirinya sudah dinonaktifkan dari posisi Sekjen Persis. Lelaki yang juga advokat itu tampak tak mempermasalahkan keputusan PT PSS. Dedi sejatinya adalah orang lama yang mendampingi PT PSS sejak 2016 untuk mengelola Laskar Sambernyawa. “Tetap berdoa agar Persis bisa masuk empat besar,” ujarnya.

Penonaktifan Dedi tak serta merta menghilangkan jabatannya sebagai Komisaris PT PSS. Peninjauan posisi komisaris hanya bisa dilakukan melalui mekanisme rapat umum pemegang saham (RUPS). Di sisi lain, wewenang Dedi sebagai voter mewakili Persis di kegiatan PSSI bakal dievaluasi.